Archive

Author Archive

Fatigue in industry

June 23, 2024 Leave a comment

Grandjean mengenalkan konsep physical fatique dan mental fatique dalam British Journal of Industrial Medicine tahun 1979 dengan judul Fatigue in industry. Physical fatique berhubungan dengan penurunan kinerja otot dan gerakan melambat sedangkan mental fatigue berhubungan dengan perasaan kawatir dan malas. Keduanya muncul dari proses yang berbeda dan harus diukur dan diperlakukan berbeda.

Grandjean membuat analogi faktor penyebab fatigue tersebut seperti sebuah bejana yang diisi air dan di dasar bejana tersebut terdapat sebuah lubang sebagai berikut,

Penyebab utama fatigue seperti intensitas fisik, mental, lingkungan kerja, penyakit, pola bangun-tidur, dan nutrisi makanan menentukan tingkat kelelahan dalam sebuah bak penampungan. Supaya air dalam bak penampungan tersebut tidak meluap, maka dibuatlah sebuah lubang di bawahnya untuk mengurangi ketinggian air (degree of fatigue). Pembuangan ini biasanya dapat terjadi ketika tidur, waktu luang, atau semua aktivitas istirahat ketika bekerja. Alhasil, Untuk menghindari kelelahan maka harus ditekankan bahwa faktor penyebab kelelahan dan waktu istirahat harus seimbang selama siklus 24 jam, dan tidak satu pun dari faktor penyebab kelelahan tersebut dibawa ke hari berikutnya.

Semoga bermanfaat – FN

Categories: Health

HFACS-MI untuk analisis investigasi kecelakaan

June 15, 2024 Leave a comment

HFACS-MI (Human Factors Analysis and Classification System in Mining Industry) merupakan model analisis investigasi kecelakaan yang dikembangkan oleh Patterson (2009) untuk pertambangan, dimana sebelumnya Wiegmann & Shappel (2003) mengenalkan HFACS untuk penerbangan. HFACS menggunakan 4 level pertahanan, sedangkan HFACS-MI menambahkan lagi 1 level pertahanan di dalamnya. Tulisan ini saya ambil dari tesis yang dibuat oleh seorang mahasiswa magister K3 salah satu Universitas di Indonesia yang berhasil lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Dalam tesis tersebut, disebutkan kegagalan Level pertahanan karena kesalahan manusia sebagai berikut,

  1. unsafe acts
  2. preconditions for unsafe acts
  3. unsafe leadership
  4. organizational influences
  5. outside factors

Unsafe Acts, terdapat dua klasifikasi tindakan tidak selamat, yaitu kesalahan (errors) dan pelanggaran (violations). Kesalahan merupakan aktivitas yang gagal mencapai hasil yang diinginkan sedangkan pelanggaran merupakan aktivitas sengaja mengabaikan peraturan dan prosedur.

Preconditions for unsafe acts, merupakan kondisi pendahuluan yang mempengaruhi kinerja dan menjadi pemicu unsafe acts. Hal ini bisa disebabkan karena faktor lingkungan (environmental), kondisi operator (condition of operators), atau faktor personil (personnel factors). Faktor lingkungan terkait dengan lingkungan fisik kerja dan teknologi/peralatan yang digunakan. Kondisi operator terkait kondisi fisik dan kejiwaan serta keterbatasannya dalam bekerja. faktor personil terkait koordinasi dan komunikasi antar pekerja dan kesiapan pekerja untuk bekerja.

Unsafe leadership, tindakan pimpinan mempengaruhi kinerja dan tindakan pekerja. Di dalamnya dapat kita temukan kepemimpinan yang tidak memadai (inadequate leadership), perencanaan operasi yang tidak tepat (planned inappropriate operations), kegagalan dalam memperbaiki masalah yang diketahui (failure to correct knows problems), dan pelanggaran kepemimpinan (leadership violations).

Organizational influences, faktor ini sering tidak disadari dan ditemukan dalam proses investigasi karena akses/informasi manajemen yang terbatas. Terdapat tiga kategori yang bisa ditelusuri yaitu manajemen sumber daya (resources management), iklim organisasi (organization climate), dan proses organisasi (organization process). Alokasi dan ketersediaan sumber daya (pekerja,peralatan,anggaran); budaya, kebijakan, dan nilai perusahaan; pembentukan program, prosedur dalam mengelola risiko merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan operasional yang aman dan selamat.

Outside factors, regulasi pemerintah dan organisasi induk serta pihak lain yang berkepentingan seperti masyarakat sekitar, kondisi perekonomian, dll akan mempengaruhi kinerja perusahaan dalam mengelola risiko. Kemampuan mengidentifikasi permasalahan internal dan eksternal dan membuat tindakan mitigasi merupakan hal utama yang perlu dilakukan oleh perusahaan.

Semoga bermanfaat – FN

Quinlan Pathway Theory

June 14, 2024 Leave a comment

Minggu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menguji tesis dua mahasiswa hebat Magister K3 sebuah Universitas besar di Indonesia, temanya terkait dengan analisis kejadian fatal di sebuah perusahaan dengan menggunakan Quinlan Pathway Theory. Quinlan adalah seorang profesor di Universitas of New South Wales di Sydney yang mengumpulkan kejadikan kecelakaan fatal 5 negara dari tahun 1990 s.d. 2011 dan membuat analisis 10 pola penyebab (pathway) yang kemudian disebut sebagai Quinlan Pathway Theory, setidaknya ada 3 pathway dari 10 pathway yang ditemukan pada setiap kejadian fatal di tempat kerja.

10 Pathway tersebut diantaranya adalah sebagai berikut,

  1. Engineering, design and maintenance flaws (SMKP IV.6, IV.4)
  2. Failure to heed warning signs (SMKP IV.4)
  3. flaws in risk asessment (SMKP II.2)
  4. flaws in management systems (SMKP V.6)
  5. flaws in system auditing (SMKP V.6)
  6. economic and reward pressures compromising safety (SMKP II.2)
  7. failures in regulatory oversight (SMKP II.3, V.3)
  8. worker or supervisor concerns that were ignored (SMKP III.13)
  9. poor management – worker communication and trust (SMKP III.11)
  10. deficiencies in emergency and rescue (SMKP III.8, IV.9)

Saya menyertakan sub-elemen SMKP terkait untuk setiap pathway di atas, sehingga boleh dilihat kembali temuan sub-elemen2 tersebut apakah setidaknya ada 3 temuan mayor/minor dari hasil audit SMKP terakhir. Apabila masih ditemukan, maka itu bisa menjadi indikator dan/atau peringatan potensi kejadian fatal di sebuah perusahaan.

Semoga bermanfaaat – FN

Korelasi SMKP dan Penilaian Kinerja KP

June 3, 2024 1 comment

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya memberikan korelasi antara SMKP (Kepdirjen 185/2019) dan Penilaian Kinerja KP (Kepdirjen 10/2023) di setiap elemen SMKP sebagai berikut,

  1. elemen 1, Kebijakan
  2. elemen 2, Perencanaan
  3. elemen 3, Organisasi dan personel
  4. elemen 4, Implementasi
  5. elemen 5, Pemantauan, Evaluasi dan Tindak Lanjut
  6. elemen 6, Dokumentasi
  7. elemen 7, Tinjauan manajemen

Saya membuat sintesis bahwa Penilaian Kinerja KP ini sebagai suplemen dari SMKP atau indikator yang dikembangkan dari SMKP (baca tulisan saya terkait ISO 45004: 2024). Sebagian pengunjung blog saya meminta saya untuk mengirimkan file kompilasi tersebut dalam bentuk tabel supaya lebih mudah dipahami dan dijadikan referensi dalam membuat program atau meningkatkan efektivitas SMKP (beyond compliance). File kompilasi yang diminta dapat didownload dari link berikut (klik disini)

Semoga bermanfaat – FN

Internalisasi Core Values dan Golden Rules KP

June 1, 2024 Leave a comment

Internalisasi Core Values (nilai-nilai inti) dan Golden Rules (Aturan Emas) Keselamatan Pertambangan (KP) dilakukan oleh manajemen dalam mengimplementasikan kebijakan KP. Manajemen melakukan upaya tersebut dengan memasukkannya pada target kinerja pekerja dan memberikan contoh aktualisasi nyata di lapangan.

Core values seperti integritas, kejujuran, inovasi, keadilan, akuntabilitas, transparansi, dll mendasari semua aktivitas/proses yang ada dalam perusahaan. Beberapa perusahaan memasukannya dalam kebijakan KP yang disosialisasikan kepada pekerja, dievaluasi pemahamannya, dan diobservasi pelaksanaannya (SMKP I.4-5).

Golden rules seperti izin kerja ketinggian, LOTOTO, APD, ruang terbatas, pre-ops kendaraan, dll merupakan hal wajib yang dilakukan oleh pekerja sebelum dan ketika melakukan pekerjaan berisiko kritis/tinggi. Dalam SMKP IV.1.1-3, Golden rules ini diimplementasikan dalam bentuk prosedur operasi/kerja yang ditetapkan, dikomunikasikan, diterapkan oleh pekerja secara konsisten, dievaluasi dan ditinjau ulang secara berkala.

Semoga bermanfaat – FN

Categories: Culture