Archive

Archive for the ‘Performance’ Category

Safety Performance Model

April 11, 2026 Leave a comment

Berikut adalah model yang saya buat untuk mengkorelasikan beberapa istilah yang sering kita dengar dalam safety dengan penjelasan sebagai berikut,

  1. Risk, System, dan People adalah tiga elemen penting yang saling terkait untuk mengukur Safety Performance. Saya sebut ini sebagai Trilogy of Safety Performance
  2. Risk adalah efek dari ketidakpastian yang teridentifikasi, dapat dinilai, dan wajib dikelola secara efektif
  3. Safety Management System adalah framework pengelolaan safety menggunakan konsep PDCA berbasis compliance
  4. Safety Culture adalah nilai, sikap, komitmen, kompetensi, persepsi (Safety Climate), dan pola perilaku umum/khusus
  5. Risk Management(RM)adalah irisan antara Risk dan System untuk program pengelolaan risiko
  6. Behavior Based Safety(BBS) adalah irisan antara Risk dan People untuk melakukan program intervensi perilaku selamat
  7. Safety Maturity(SM) adalah irisan antara People dan System untuk menilai apa dan bagaimana sebuah system dan/atau people berevolusi dari non compliance, compliance ke generative
  8. Safety Performance = f(RM,BBS,SM), Safety Performance adalah fungsi dari Pengelolaan Risiko, Intervensi Perilaku Selamat, dan Tingkat Kematangan Safety.

Increasing Safety Performance can be done by giving more weight (effort) in Risk Management, Behavior Based Safety, and Safety Maturity Level. Herewith the formula:

  1. Safety Performance=f(Risk Management,Behavior Based Safety,Safety Maturity Level).
  2. Risk Management=f(Principle,Framework,Process)
  3. Behavior Based Safety=f(Consequences +,Consequences -)
  4. Safety Maturity Level=f(Safety Management System,Safety Culture Maturity Level)
  5. Safety Management System=f(plan,do,check,action)
  6. Safety Culture Maturity Level=f(values, believe, commitment, perception, pattern of behavior)

Tembagapura – 11/4/2026 (FN)

Categories: Performance

Leading-Lagging dalam Kepdirjen 10.K/2023

March 28, 2026 4 comments

Dalam tulisan saya sebelumnya terkait dengan indikator yang dikembangkan (klik disini), terdapat korelasi antara ISO 45004 – Performance Guideline dengan instrumen pengukuran kinerja KP (Kepdirjen 10.K/2023). Tulisan kali ini lebih memberikan contoh kategori (leading-lagging) dan tipe data (kuantitatif-kualitatif) dalam instrumen pengukuran kinerja KP (Kepdirjen 10.K/2023). Terdapat 194 item dalam instrumen yang dapat kita kelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu leading-kuantitatif (37 item, 19%), leading – kualitatif (119 item, 61%), dan lagging – kuantitatif (38 item, 20%) dengan contoh sebagai berikut,

MetodeContoh
Leading – Kuantitatif1.2.1 Kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja
1 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata < 50% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
2 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 50-69% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
3 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 70-79% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
4 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 80-94% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
5 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 95-100% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
Leading – Kualitatif2.1.1 Upaya internalisasi Nilai-nilai inti (Core values) perusahaan oleh manajemen
1 – manajemen tidak melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada pekerja
2 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan hanya kepada sebagian kelompok kerja
3 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada seluruh pekerja
4 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan dan memasukkan kepada target kinerja pekerja
5 – manajemen telah memberikan contoh nyata aktualisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada pekerja
Lagging – Kuantitatif4.10.2 Efektivitas Dokumentasi
1 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 0%
2 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 0.1-1%
3 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 1.1-2%
4 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 2.1-2.9%
5 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 3%

Tembagapura – 28/3/2026 (FN)

Categories: Culture, Performance

Setup Achievement Target

December 11, 2022 Leave a comment

Organisasi yang ingin berkembang pasti akan menentukan target pencapaian untuk melihat sejauh mana aktivitas yang dilakukan dapat berkontribusi terhadap hasil. Metode yang paling efektif untuk membuat bahasa target adalah SMART (Specific, Measureable, Achievable, Realistic, Time-bound). Tujuan adalah kualitatif, sedangkan target adalah kuantitatif, sebagai contoh kita memiliki tujuan menurunkan tingkat kecelakaan jari dalam kuartal kedua tahun 2022, maka kita bisa membuat bahasa target 80% pengawas melakukan observasi kepada pekerja dengan pekerjaan berisiko cedera jari setiap minggu.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan memberikan beberapa tipe target (metric) yang dapat kita buat:

  1. Positive Metric
  2. Negative Metric
  3. Threshold Metric
  4. Milestone

Positive Metric digunakan apabila kondisi naik dinilai lebih baik, sebagai contoh meningkatkan partisipasi pekerja dalam pertemuan K3 sebesar 90% dalam kuartal keempat tahun 2022.

Negative Metric digunakan apabila kondisi turun dinilai lebih baik, sebagai contoh menurunkan kondisi tidak aman di area kerja sebesar 80% dalam kuartal keempat tahun 2022.

Threshold Metric digunakan apabila target dinilai dalam sebuah range/rentang, sebagai contoh mempertahankan tingkat kebisingan area kerja bengkel dalam kisaran 60 – 70 dB dalam kuartal keempat tahun 2022.

Milestone Metric digunakan apabila kita tidak memiliki alat ukur, sebagai contoh mendigitalisasi formulir inspeksi area kerja pada kuartal keempat tahun 2022.

Semoga bermanfaat (FN)

Categories: Performance

Safety Performance – A New View

September 24, 2022 Leave a comment

Indikator Safety Performance yang digunakan oleh banyak perusahaan adalah Frequency Rate (FR), Severity Rate (SR), dan Fatality Rate (FR). Indikator ini mengukur HASIL setelah sebuah AKTIVITAS terjadi dan dilakukan biasanya di akhir bulan/tahun. Alhasil, pengukuran dilakukan atas apa yang telah terjadi di masa lalu dan tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Pendekatan ini disebut sebagai Reactive Safety Performance Measures (Lagging Indicators)

AKTIVITAS yang ada dalam dunia Safety diwujudkan dalam beberapa program umum/spesifik seperti inspeksi, meeting, observasi, audit, survey K3, HIRADC, SOP, JSA, dan masih banyak lagi. ada dua pertanyaan yang dapat kita ajukan terkait dengan hal tersebut, yaitu:

  1. Apakah AKTIVITAS tersebut dapat diukur dengan tepat ?
  2. Apakah AKTIVITAS tersebut dapat memprediksi/mempengaruhi/ berkorelasi dengan apa yang akan terjadi di masa depan

Apabila jawaban terhadap dua pertanyaan di atas adalah YA, maka pendekatan baru yang digunakan disebut sebagai Proactive Safety Performance Measures (Leading Indicators). Pendekatan ini mengukur AKTIVITAS yang terjadi setiap saat yang memungkinkan kita untuk melakukan intervensi jika ada penyimpangan berdasarkan Trend/Threshold metrics yang kita tetapkan. Pengukuran ini dapat kita verifikasi setiap saaat dengan pengukuran Reactive untuk melihat korelasinya.

Melihat keseimbangan (balanced) antara Reactive dan Proactive Safety Performance measures serta menggunakan keduanya untuk mengukur kinerja Safety merupakan A New View untuk meningkatkan kinerja Safety di sebuah perusahaan.

Semoga bermanfaat (ditulis dari Tembagapura – FN)

Categories: Performance

Level Kinerja Keselamatan Perusahaan

October 12, 2021 Leave a comment

Ada beberapa teori atau rujukan yang digunakan untuk mengukur Kinerja Keselamatan sebuah Perusahaan. Pada umumnya ada dua indikator yang digunakan yaitu indikator lagging dan indikator leading. Indikator lagging menggunakan perhitungan angka jumlah kecelakaan kerja dibagi dengan jumlah tenaga kerja dikalikan dengan perhitungan jam kerja dalam setahun. Perhitungan indikator lagging merupakah perhitungan yang mudah dilakukan dan bersifat reaktif karena dilakukan setelah waktu berjalan.

Perhitungan indikator leading merupakan perhitungan yang sulit dilakukan karena bersifat proaktif dan prediktif karena mengkorelasikan tindakan atau program yang ada dengan hasil yang ingin dicapai yaitu kecelakaan nihil. Apakah pendekatan program lewat inspeksi, pertemuan K3, observasi pekerjaan terencana, dan yang lain berkorelasi secara negatif dengan jumlah kecelakaan kerja ? Apakah pendekatan sistem lewat SMK3/SMKP/ISO45001 berkorelasi secara negatif dengan jumlah kecelakaan kerja ? Jawaban pertanyaan tersebut merupakan PR yang sampai sekarang belum terjawab secara general dan empiris baik oleh akademisi maupun praktisi K3.

Pendekatan program maupun pendekatan sistem keduanya perlu diimplementasikan! Level Kinerjanya akan diukur dengan angka sejauh mana program/sistem tersebut dilakukan dengan baik yaitu sesuai dengan yang direncanakan. Kondisi ini disebut sebagai Level Kinerja Keselamatan Level 1 yaitu Implementasi. Pemantauan yang dilakukan secara konsisten menggunakan metode observasi dan analisis akan meningkatkan level kinerja menjadi Level Kinerja Keselamatan Level 2 yaitu Improvement. Observasi dan analisis tidak terpisahkan karena observasi digunakan untuk mendapatkan data yang reliable, sedangkan analisis digunakan untuk mendapatkan data yang valid, keduanya memiliki hubungan dua arah / reciprocal. Level Improvement merupakan kondisi dimana program / sistem dilakukan dengan lebih baik. Level Kinerja Keselamatan Level 3 yaitu Inovasi merupakan level kinerja tertinggi dimana program / sistem mampu beradaptasi untuk menghasilkan program/sistem yang baru, adaptif, dan dinamis.

Ketiga Level Kinerja Keselamatan diatas tentu saja diletakkan dalam kerangka organisasi, yaitu Orang, Group/Divisi/Departemen, dan Perusahaan untuk mendapatkan korelasi yang berimbang dan mendukung satu dengan lainnya.

Semoga bermanfaat!

Fendy (ditulis dari Tembagapura – Papua)

Categories: Performance