Leading – Kuantitatif dalam Kepdirjen 10.K/2023
Melanjutkan tulisan saya terkait Leading-Lagging dalam Kepdirjen 10.K/2023 (klik disini), Terdapat 35 item (dari 194 item, 18%) yang merupakan data leading-kuantitatif. Berikut adalah 35 item tersebut,
| Indikator | Item |
|---|---|
| Partisipasi Pekerja Tambang | 1.2.1 Kehadiran Pekerja dalam Pekerjaan di Hari Kerja 1.2.2 Kehadiran Pekerja dalam Kegiatan KP 1.2.4 Keterlibatan Perwakilan Departemen/Bagian/Seksi dalam Tim Manajemen Risiko KP 1.2.6 Keterlibatan Pekerja Non Pengawas dalam Manajemen Risiko KP 1.2.11 Kehadiran dan Keterlibatan Ketua Komite KP dalam Rapat Komite KP 1.2.13 Kehadiran dan Keterlibatan Wakil Ketua Komite KP dalam Rapat Komite KP 1.2.15 Kehadiran dan Keterlibatan Sekretaris Komite KP dalam Rapat Komite KP 1.2.17 Kehadiran dan Keterlibatan Anggota Komite KP dalam rapat Komite KP 1.2.20 Jumlah Pelaporan Bahaya dan/atau Pengaduan Pelanggaran KP (Whistleblowing) terkait KP oleh Pekerja 1.2.22 Jumlah Saran dan Masukan Pekerja untuk Peningkatan KP |
| Tanggung Jawab Pimpinan Unit Kerja | 2.2.6 Jumlah Kehadiran Manajemen Puncak pada Site 2.2.14 Tingkat Kehadiran KTT/PJO di Site 2.2.18 Kehadiran KTT/PJO dalam kegiatan KP (Rapat,Pertemuan,Seminar, dan Kegiatan lainnya) 2.2.22 Keterlibatan Pimpinan Departemen/Bagian dalam Penyusunan dan Tinjauan Kebijakan KP 2.2.24 Keterlibatan Pimpinan Departemen/bagian/Seksi dalam Kegiatan KP 2.2.28 Kehadiran Pengawas Operasional/Teknis dalam Pertemuan KP Kelompok Kerja 2.4.4 Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab KTT 2.4.6 Ketersediaan Pengawas Operasional dan Pengawas Teknis 2.6.2 Jumlah Pertemuan KP 2.6.4 Jumlah Kampanye KP 2.7.1 Jumlah Penetapan Tata Cara Kerja Baku untuk Operasi Kerja 2.7.10 Jumlah Inspeksi, Pemeriksaan, Pengujian oleh Pengawas Operasional Langsung 2.7.12 Jumlah Inspeksi, Pemeriksaan, Pengujian oleh Pengawas Operasional Jenjang Menengah 2.7.14 Jumlah Inspeksi, Pemeriksaan, Pengujian oleh Pihak Internal di Luar Penanggung Jawab Area (Silang) 2.8.3 Keberhasilan Pencapaian Tujuan Audit Internal SMKP 2.8.4 Jumlah Opportunity for Improvement dari Hasil Audit Internal SMKP 2.8.5 Penyelesaian Rencana Tindak Lanjut Audit Internal SMKP |
| Analisis dan Statistik Insiden | 3.2.6 Realisasi Pelaksanaan Tindakan Perbaikan dan Pencegahan |
| Upaya Pengendalian yang telah dilakukan | 4.5.4 Manajemen Integritas Aset: Jumlah Pengujian Kelayakan SPIP Pertambangan 4.5.5 Manajemen Integritas Aset: Realisasi Commissioning 4.5.6 Manajemen Integritas Aset: Jumlah Pemeliharaan SPIP Pertambangan 4.5.7 Nilai Physical Availability 4.5.8 Nilai Mechanical Availability 4.6.3 Pemenuhan Kompetensi Pekerja sesuai Standar Kompetensi Kerja 4.6.5 Jumlah Pendidikan dan Pelatihan KP |
Tembagapura – 3/4/2026 (FN)
Lagging – Kuantitatif dalam Kepdirjen 10.K/2023
Melanjutkan tulisan saya terkait Leading-Lagging dalam Kepdirjen 10.K/2023 (klik disini), Terdapat 38 item (dari 194 item, 20%) yang merupakan data lagging-kuantitatif, artinya item ini didapatkan dari output data histori yang tidak bisa kita kendalikan karena sudah berlalu. Berikut adalah 38 item tersebut,
| Indikator | Item |
|---|---|
| Partisipasi Pekerja Tambang | 1.2.24 Efektivitas Partisipasi Pekerja |
| Tanggung Jawab Pimpinan Unit Kerja | 2.1.3 Efektivitas Kebijakan KP 2.2.4 Realisasi Anggaran KP dalam RKAB 2.2.8 Efektivitas Rapat Tinjauan Manajemen 2.3.2 Efektivitas Pemenuhan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan Lainnya yang Terkait 2.3.6 Kepatuhan KTT dalam Pengelolaan Administrasi KP 2.4.7 Pelaksanaan Jumlah Tugas dan Tanggung Jawab Pengawas Operasional dan Pengawas Teknis 2.5.4 Efektivitas Pemantauan dan Pengukuran Kinerja Pengelolaan KP 2.6.18 Efektivitas Komunikasi KP 2.7.7 Kesesuaian Pemberian Izin Kerja Khusus 2.7.16 Efektivitas Inspeksi KP |
| Analisis dan Statistik Insiden | 3.2.7 Jumlah Kasus KP Serupa dan Berulang dalam 2 Tahun Terakhir 3.3.1 Pencapaian Accident Frequency Rate 3.3.2 Pencapaian Accident Severity Rate 3.3.3 Jumlah Kejadian Berbahaya 3.3.4 Pencapaian Morbidty Frequency Rate 3.3.5 Pencapaian Absence Severity Rate (termauk KAPTK) 3.3.6 Frekuensi PAK |
| Upaya Pengendalian yang telah dilakukan | 4.1.4 Efektifitas Manajemen Risiko KP 4.2.2 Realisasi Program Pokok Kesehatan Kerja 4.2.3 Efektivitas Program Kesehatan Kerja 4.3.2 Realiasi Program Pokok Lingkungan Kerja 4.3.3 Efektivitas Program Lingkungan Kerja 4.4.5 Efektivitas Perancangan dan Rekayasa Pertambangan 4.5.1 Pengadaan dan Pembelian Aset KP 4.5.9 Realisasi Program Pokok: keselamatan Operasi 4.5.10 Efektivitas Program Keselamatan Operasi 4.6.2 Efektivitas Seleksi dan Penempatan Pekerja 4.6.4 Efektivitas Pemenuhan Kompetensi Kerja 4.6.7 Efektivitas Pendidikan dan Pelatihan KP 4.7.4 Efektivitas Kajian Teknis Pertambangan 4.7.5 Efektivitas Manajemen Perubahan 4.8.1 Efektivitas Tim Tanggap Darurat 4.8.2 Efektivitas Manajemen Keadaan Darurat 4.9.1 Kesesuaian Persyaratan, Seleksi, dan Penetapan PJP 4.9.2 Kesesuaian Penetapan Tanggung Jawab PJP 4.9.3 Kesesuian Pemantauan dan Evaluasi Kinerja PJP 4.10.2 Efektivitas Dokumentasi |
Tembagapura – 29/03/2026 (FN)
Leading-Lagging dalam Kepdirjen 10.K/2023
Dalam tulisan saya sebelumnya terkait dengan indikator yang dikembangkan (klik disini), terdapat korelasi antara ISO 45004 – Performance Guideline dengan instrumen pengukuran kinerja KP (Kepdirjen 10.K/2023). Tulisan kali ini lebih memberikan contoh kategori (leading-lagging) dan tipe data (kuantitatif-kualitatif) dalam instrumen pengukuran kinerja KP (Kepdirjen 10.K/2023). Terdapat 194 item dalam instrumen yang dapat kita kelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu leading-kuantitatif (35 item, 18%), leading – kualitatif (121 item, 62%), dan lagging – kuantitatif (38 item, 20%) dengan contoh sebagai berikut,
| Metode | Contoh |
|---|---|
| Leading – Kuantitatif | 1.2.1 Kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja 1 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata < 50% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk 2 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 50-69% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk 3 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 70-79% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk 4 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 80-94% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk 5 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 95-100% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk |
| Leading – Kualitatif | 2.1.1 Upaya internalisasi Nilai-nilai inti (Core values) perusahaan oleh manajemen 1 – manajemen tidak melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada pekerja 2 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan hanya kepada sebagian kelompok kerja 3 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada seluruh pekerja 4 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan dan memasukkan kepada target kinerja pekerja 5 – manajemen telah memberikan contoh nyata aktualisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada pekerja |
| Lagging – Kuantitatif | 4.10.2 Efektivitas Dokmentasi 1 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 0% 2 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 0.1-1% 3 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 1.1-2% 4 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 2.1-2.9% 5 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 3% |
Tembagapura – 28/3/2026 (FN)
Metode 5 Why dalam analisis insiden

Berikut adalah contoh insiden seorang pekerja terperosok ke dalam lubang sehingga mengakibatkan cedera kaki menggunakan metode 5 Why,
- Seorang pekerja terperosok ke dalam lubang. Why?
- Pekerja tidak melihat lubang tersebut. Why?
- Kondisi sekitar gelap menjelang malam. Why?
- Pekerja tersebut kerja lembur (single root cause)
- Tindakan koreksi: melakukan konseling kepada pekerja tersebut untuk lebih berhati-hati ketika berjalan pulang menjelang malam karena lembur
Pertanyaan selanjutnya adalah Apakah dengan menemukan single root cause dan juga tindakan koreksi di atas akan mencegah kejadian yang sama terulang kembali? Apakah konsekuensi yang timbul dapat lebih buruh dari cedera kaki? Jawaban terhadap dua pertanyaan ini menentukan apakah perlu dilakukan analisis lebih mendalam atau tidak.
Berikut adalah pertanyaan yang dapat diajukan terkait insiden di atas apabila hendak dilakukan analisis mendalam,
- Bagaimana proses terbentuknya lubang tersebut?
- Apakah tidak ada lampu penerangan menjelang malam?
- Apakah tidak ada tanda peringatan/demarkasi adanya lubang tersebut?
Menggunakan metode 5 Why untuk setiap pertanyaan di atas akan memberikan multiple root causes sebagai berikut,
- Lubang tersebut terbentuk karena ada aktivitas lalu lalang alat berat di lokasi
- Lampu penerangan ada tapi dalam kondisi mati sejak 2 minggu yang lalu
- Ada tanda/rambu peringatan adanya lubang tersebut tapi tidak terlihat karena terlalu kecil
Alhasil tindakan koreksi yang dibuat adalah sebagai berikut,
- Membatasi pergerakan lalu lalang alat berat di lokasi
- Memperbaiki lampu penerangan
- Membuat tanda/rambu yang lebih terlihat dan/atau demarkasi sampai lubang tersebut ditutup/diperbaiki
Tembagapura- 14/03/2026 (FN)
Jenis Bukti Asesmen Kompetensi

Dalam tulisan saya sebelumnya terkait Metode dan Instrumen Asesmen terdapat 6 metode asesmen yang dapat dilakukan untuk mengumpulkan bukti asesmen kompetensi. Metode asesmen tersebut digunakan sesuai dengan jenis bukti yang dipersyaratkan. Terdapat 3 jenis bukti asesmen kompetensi yaitu bukti Langsung, Tidak Langsung, dan Tambahan (jika diperlukan sebagai pelengkap bukti langsung/tidak langsung) dengan penjelasan sebagai berikut,
- Bukti Langsung
- didapatkan dengan pengamatan langsung oleh asesor
- bisa menggunakan metode observasi langsung (psikomotorik lewat praktek/demontrasi di tempat kerja atau simulasi) atau kegiatan terstruktur (kognitif lewat skenario kegiata terstruktur/studi kasus)
- apabila dirasakan kurang dapat menggunakan bukti tambahan berupa tes tertulis atau tes lisan
- Bukti Tidak Langsung
- didapatkan dari verifikasi hasil karya/portofolio asesi oleh asesor
- bia menggunakan metode verifikasi portofolio atau review produk
- apabila dirasakan kurang dapat menggunakan bukti tambahan berupa pertanyaan wawancara atau verifikasi pihak ketiga
Tembagapura – FN (07/03/2026)