Promosi K3 Revisi

November 24, 2019 Leave a comment

Beberapa paparan dan tulisan mengenai promosi K3 mengambil referensi dari Promosi Kesehatan Ottawa Charter tahun 1986 dengan tiga strategi dan lima action yang jika dibaca menjadi terputus ketika masuk dalam implementasi K3 karena ada kata Keselamatan di dalamnya. Hal ini cukup menganggu jika memahaminya secara keliru.

Promosi kesehatan bermula dari pendidikan kesehatan yang tidak cukup untuk merubah perilaku sehat, sehingga dibuatlah social support/bina suasana/mediasi dan advokasi yang selanjutnya menjadi tiga strategi wajib untuk promosi kesehatan. Tiga strategi ini dituangkan dalam lima action yaitu membangun kebijakan publik, menciptakan lingkungan yang mendukung, memperkuat gerakan masyarakat, mengembangkan keterampilan individu, reorientasi pelayanan kesehatan.

Dalam konteks K3, tiga strategi dan lima actikn ini sudah terintegrasi dalam sistem manajemen K3 mulai dari policy (advokasi, kebijakan publik), perencanaan dan organisasi (education, social support, lingkungan yang mendukung, gerakan masyarakat, kompetensi individu), implementasi, evaluasi monitoring, dokumentasi, dan tinjauan manajemen.

Reorientasi pelayanan artinya merubah mindset dari korektif dan rehabilitatif setelah kecelakaan kerja, tapi menjadi preventif lewat manajemen risiko, pendidikan dan pelatihan yang kemudian ditambahkan dengan menciptakan organisasi dan lingkungan kerja yang selamat, kebijakan dan aturan keselamatan sehingga menjadi aktifitas promosi K3.

Dengan kata lain Promosi K3 dapat dirumuskan = preventif (lewat manajemen risiko, pendidikan dan pelatihan, …) + enforcement kebijakan/aturan + social support /enabling (menciptakan lingkungan kerja dan organisasi yang mendukung K3)/pembinaan/kampanye

Implementasi dari promosi K3, evaluasi tindak lanjut, dokumentasi, dan tinjauan perlu dimasukkan dalam kerangka sistem manajemen K3 dalam perpektif sistem yang bisa melihat secara keseluruhan.

Tembagapura, 24 nov 2019

Fendy Novento

Categories: Safety

The Systemic Approach

April 14, 2019 Leave a comment

Sistem Manajemen K3 sedang menjadi trend di perusahaan tambang di Indonesia, postingan kali ini tidak membahas mengenai smk3 yang digunakan tapi lebih ke konsep dasar filosofis lahirnya pendekatan sistemik

Saya akan mulai dengan Kecelakaan Kerja, kejadian ini merupakan salah satu yang menjadi tujuan utama dari semua perusahaan terkait dengan performance. banyak konsep dan teori yang mencoba mengurai penyebab dari kecelakaan kerja ini dengan harapan bisa melakukan tindakan koreksi untuk prevent kecelakaan kerja. Dua teori yang cukup populer adalah teori Domino oleh Heinrich yang kemudian dikembangkan oleh Frank Bird dan teori swicc cheese yang dikembangkan oleh James Reason.

Kedua teori tersebut terlihat sama karena digambarkan sebagai barisan layer yang sequential padahal seharusnya berbeda. Domino menggunakan istilah unsafe act and/or unsafe condition yang bergerak linear ditarik ke belakang melewati penyebab dasar sampai manajemen kontrol. Swiss cheese menggunakan istilah active failure (=unsafe act) dan latent failure( lubang tersembunyi yang bisa membuka ketika dipicu).

Kedua teori tersebut memiliki kesamaan hakiki untuk mencari kegagalan, entah itu kegagalan manusia dan/atau mesin secara mikro, padahal dalam perpective macro harus dilihat antara manusia, mesin, organisasi yang berada dalan sebuah lingkungan yang dinamis.

Pendekatan sistem menjawab kelemahan dari kedua teori tersebut dan berusaha menempatkan diri dalam skala yang lebih besar dimana kegagalan ditarik lebih jauh lagi ke belakang ke perancangan sistem. rancangan sistem yang buruk berkorelasi dengan kegagalan dan ini menjadi perhatian para perancang sistem dengan mengidentifikasi elemen pokok dan menjabarkannya dalam subelemen, menerapakan, dan mengevaluasi kembali untuk continual improvement.

Salatiga, 13 April 2019

Categories: Safety

Kompetensi K3 Pengawas

February 26, 2019 Leave a comment

Seringkali di lapangan, pembebanan safety diserahkan kepada safety officer/safety supervisor/safety manager!

Pemahaman ini adalah keliru adanya karena bukan mereka yang melakukan day to day operation tapi karyawan dan pengawas operasional lah yang berurusan dengan risiko setiap hari!

Safety officer/safety supervisor/safety manager hanyalah segelintir orang yang memiliki kelebihan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang positif akan safety yang berfungsi sebagai asisten maupun advisor bagi karyawan dan pengawas operasional!

Oleh karena itu, karyawan dan pengawas operasional selain memiliki kompetensi teknis dan managerial, juga memiliki kompetensi safety yang mumpuni!

FN

Categories: Safety

Budaya K3

February 26, 2019 Leave a comment

Bulan K3 tahun 2019 ini menggunakan istilah Budaya K3, pertanyaannya adalah bagaimana mengukur Budaya K3?

asumsi 1:
Budaya K3 diukur dari perilaku yang sudah terbentuk , ini bisa diamati dari observasi / inspeksi di lapangan

asumsi 2:
Budaya K3 diukur dari persepsi, sikap pelaku, ini bisa digali dari interview maupun survey

asumsi 3:
Budaya K3 diukur dari seberapa besar kepemimpinan dan komitmen pimpinan dan pelaku terhadap K3

asumsi 4:
Budaya K3 diukur dari data leading maupun lagging yang ada dalam organisasi

asumsi 5:
Budaya K3 diukur dari seberapa efektif sistem manajemen K3 yang digunakan dalam organisasi

FN

Categories: Safety

Safety is Passion

February 2, 2019 Leave a comment

Ada beberapa definisi terkait dengan passion, tapi sedikit definisi terkait dengan safety passion. Secara sederhana, saya definisikan safety passion sebagai dorongan untuk selalu mencari kontrol yang lebih baik untuk mencegah kecelakaan dan kinerja K3 yang setinggi-tingginya.

Bagaimana menumbuhkan Safety Passion ?

Berikut adalah dua hal yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut

1) menjadikan safety sebagai values perusahaan, values akan menumbuhkan set of behaviour yang membentuk safety culture

2) safety leadership melalui 4E framework, yaitu

# envision (perencanaan, plan) : policy, tujuan, sasaran, dan program kerja

# enable (organisasi dan personel): komite safety, task force pekerjaan berisiko tinggi, safety officer, …

# empower (implementasi, do): sistem manajemen k3, safety accountability program, meeting, inspeksi, observasi, instalasi dsn perawatan sarana prasarana peralatan

# engage (evaluasi dan monitoring, check and action): feedback, evaluasi kinerja, internal audit,…

Envision ke enable adalah What, enable ke empower adalah How, dan empower ke engage adalah Why.

– FN 2/2/2019 –

Categories: Safety