Pembelajaran Kasus Kecelakaan Tambang Triwulan II Tahun 2026
Berikut adalah pembelajaran kasus kecelakaan tambang triwulan I Tahun 2026 sebagaimana tersurat dalam SE KaIT Nomor B-6705/MB.07/DBT.KP/2026 tanggal 17 Juli 2026 untuk peningkatan kewaspadaan dalam upaya peningkatan kinerja Keselamatan Pertambangan.
- masih terdapat kelemahan yang berulang dalam pengendalian risiko kritis (SMKP II.2.4), pengawasan operasional (SMKP III.5), manajemen perusahaan jasa pertambangan (SMKP IV.8), kepatuhan terhadap desain (SMKP IV.6) dan prosedur kerja aman (SMKP IV.1.1), serta kesiapsiagaan tanggap darurat dan penanganan medis pascakejadian (SMKP IV.9)
- demografi menunjukkan sebanyak 57% (Triwulan I, 39%) korban merupakan pekerja dengan masa kerja 0 – 2 tahun dan 93% (Triwulan I, 92%) korban berasal dari perusahaan kontraktor dan subkontraktor
- faktor pribadi yang muncul adalah ketidakpatuhan terhadap tata cara kerja; kurangnya pemahaman terhadap bahaya dan risiko pekerjaan; rendahnya disiplin terhadap prosedur dan arahan pengawas; lemahnya sistem pembinaan, pengawasan dan verifikasi kompetensi.
- faktor pekerjaan yang muncul adalah kurang memadainya kuantitas dan kualitas pengawasan khususnya bagi pekerja baru; belum efektifnya manajemen risiko pekerjaan berisiko tinggi; serta ketidaksesuaian antara desain, prosedur dan pelaksanaan operasional di lapangan
- tindakan pengendalian yang perlu dilakukan sebagai berikut,
- melakukan management walkthrough – inspeksi ke area2 berisiko tinggi (SMKP V.2)
- memastikan terlaksananya fungsi evaluasi kinerja perusahaan jasa pertambangan (SMKP IV.8.3)
- memastikan sistem respon dan penanganan medis pasca-kejadian telah disusun, diuji, dan ditingkatkan secara berkelanjutan (SMKP IV.9)
- memastikan seluruh hasil inspeksi, investigasi, dan audit sudah ditindaklanjuti (SMKP V.7)
- memastikan KTT memiliki kewenangan dan dukungan yang memadai (SMKP III.2.1)
- memastikan bagian K3 dan KO berperan aktif sebagai fungsi assurance dan advisori manajemen risiko (SMKP III.4)
- memastikan adanya penguatan sistem pembinaan, verifikasi kompetensi (SMKP III.10.2), pendampingan pekerja, dan pengawasan berlapis bagi pekerja baru, kontraktor, dan subkontraktor (SMKP III.5)
- memastikan seluruh kegiatan operasional dilaksanakan sesuai dengan desain, kajian teknis, dan rekomendasi rekayasa yang mempertimbangkan faktor keamanan pada kondisi ekstrem, serta setiap penyimpangan dikendalikan melalui mekanisme yang sah (SMKP IV.4.5, IV.6)
Tembagapura – 2/8/2026
7 Dashboard SMKP

SMKP (Kepdirjen 185.K/2019) tidak secara explisit menyebutkan Dashboard untuk monitoring kinerja, akan tetapi dalam elemen V Pemantauan, Evaluasi, dan Tindak Lanjut terdapat 7 sub-elemen dengan kriteria penilaian spesifik yang dapat dijadikan Dashboard untuk monitoring kinerja (leading dan lagging indicators). Berikut adalah 7 minimum dashboard yang perlu dibuat,
- Dashboard Kinerja
- TSP/OTP (Tujuan Sasaran Program/Objectives Target Program)
- lingkungan kerja (IH: Industrial Hygiene)
- kesehatan kerja (OH: Occupational Health)
- keselamatan operasi (KO)
- Dashboard Inspeksi
- Dashboard Evaluasi Kepatuhan/Legal Compliance
- Dashboard Insiden
- Dashboard Pelaporan Administrasi
- laporan berkala
- laporan khusus
- Dashboard Audit Internal
- Dashboard Rencana Perbaikan dan Tindak Lanjut (CAPA/Corrective Action and Preventive Action)
- CAPA audit, inspeksi, insiden, observasi, meetings, ….
Tembagapura – FN (12/7/2026)
Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penilaian Kinerja KP
Dalam tulisan saya sebelumnya terkait kuesioner Penilaian Kinerja KP berdasarkan Kepdirjen Minerba 10.K/2023 (baca disini), muncul pertanyaan apakah kuesioner yang dibuat perlu di uji validitas dan reliabilitas atau tidak? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah perlu, Berikut adalah langkah yang perlu dilakukan sebelum kuesioner disebarkan ke responden,
- lakukan uji validitas isi untuk kuesioner yang telah dibuat menggunakan Expert Judgement dari Ahli, hasilnya adalah Indeks Aiken’s V / CVI. Ahli akan memberikan penilaian dan pertimbangan apakah isi item pertanyaan/pernyataan sudah sesuai dengan teori/regulasi dan bahasa (kualitatif)
- lakukan uji coba (pilot) kuesioner kepada 30 responden untuk masing-masing target responden (manajemen, pimpinan, pengawas, pekerja).
- lakukan uji berdasarkan hasil uji coba (pilot) sebagai berikut,
- uji validitas item-total
- dilakukan dengan membandingkan setiap skor item dengan skor total, dinyatakan valid apabila nilai item berbanding lurus dengan nilai total
- gunakan software statistik (Stata, SPSS, MiniTab, dll) untuk menghitung nilai Korelasi Pearson (r-hitung) setiap item
- bandingkan nilai r-hitung dengan r-tabel dengan ketentuan sebagai berikut,
- r-hitung >= r-tabel maka item VALID
- r-hitung < r-tabel maka item INVALID
- nilai r-tabel dapat dicari dari tabel r-PRODUCT MOMENT dengan tingkat signifikan 5%, sebagai contoh apabila jumlah reponden 30 orang (r-tabel = 0,361)
- apabila terdapat item yang INVALID maka dilakukan perbaikan terhadap item tersebut dan dilakukan uji coba(pilot) kembali kepada responden baru sampai semua item dinyatakan VALID
- uji reliabilitas
- setelah semua item dinyatakan VALID , dilakukan uji reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha
- gunakan software statistik (Stata,SPSS,MiniTab, dll) untuk menghitung nilai Cronbach’s Alpha kuesioner secara keseluruhan dan setiap item
- Apabila nilai Cronbach’s Alpha keseluruhan kuesioner > = 0.6, maka kueisoner dinyatakan Reliable yaitu konsisten hasilnya apabila dilakukan secara berulang
- Apabila nilai Cronbach’s Alpha keseluruhan < 0.6, maka dilihat kembali nilai Cronbach’s Alpha setiap item yang < 0,6. Lakukan perbaikan kecil pada item tersebut dengan memberikan penekanan (huruf tebal) kepada pertanyaan/pernyataan item tersebut supaya responden lebih fokus
- uji validitas item-total
Catatan: Kuesioner penilaian kinerja KP berdasarkan regulasi Kepdirjen 10.K/2023, sehingga item yang INVALID dan/atau tidak Reliable tidak bisa dihilangkan/di-drop pada saat dilakukan uji validitas dan reliabilitas
Tembagapura – FN (28/06/2026)
Dua Pendekatan Tindakan Koreksi

Ada dua pendekatan tindakan koreksi dari temuan ketidaksesuaian, yaitu:
- Tipe A
- tindakan koreksi telah ditentukan dan dimulai
- orang yang ditugaskan memilih untuk menunda dan mengerjakan pekerjaan harian
- di akhir2 hari menjelang dateline, orang yang ditugaskan mulai mengerjakan tindakan koreksi
- tindakan koreksi telah dilakukan sebelum dateline atau sesudah dateline masih belum diselesaikan
- Tipe B
- tindakan koreksi telah ditentukan dan dimulai
- orang yang ditugaskan memilih untuk mengerjakan terlebih dahulu
- di akhir2 hari menjelang dateline, orang yang ditugaskan melakukan evaluasi efektivitas tindakan koreksi
- tindakan koreksi telah dilakukan sebelum dateline
Anda tipe yang mana?
Tembagapura – FN (31/05/2026)
[Book Review] Data Driven Meeting

Tulisan saya terkait Maturitas Pertemuan KP memberikan indikator kinerja dari sisi kualitas, jumlah, kehadiran dan peran pimpinan dalam pertemuan KP, akan tetapi belum menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya pertemuan KP itu dilaksanakan dengan efektif dan efisien? Buku “Data Driven Meeting” oleh Prof. Supandi berikut ini bisa menjawab pertanyaan tersebut, ditulis dari pengalaman beliau, buku ini memberikan rujukan praktis dan konseptual terkait bagaimana meeting bukan hanya sebagai alat administrasi, tapi sebagai alat kendali manajemen untuk pengambilan keputusan dan peningkatan kinerja. Berikut adalah beberapa hal yang mejadi intisari buku tersebut,
- materi meeting harus terukur dan berbasis data, pendekatan QQTC (Quantity, Quality, Time, Cost) memungkinkan seluruh aktivitas diterjemahkan dalam ukuran yang obyektif dengan satuan yang jelas, target dan baseline yang disepakati bersama
- apabila terjadi deviasi, maka pendekatan 5M (Man, Money, Machine, Method, Material) menjadi rujukan untuk mencari penyebab secara holistik dan membuat tindakan perbaikan
- tindakan perbaikan yang dilakukan menggunakan kerangka PDCA (Plan,Do,Check,Action). Plan dibangun berbasis pendekatan 5M, Do dijalankan dengan pengendalian sumber daya, Check dilakukan melalui dashboard time-series, dan Act memastikan perbaikan ditindaklanjuti
Mengutip pesan terakhir dari buku ini: “Data yang diukur dengan benar, dianalisis sesuai konteks, dan ditindaklanjuti dengan disiplin akan menghasilkan kinerja yang unggul secara berkelanjutan. QQTC menyediakan bahasa kinerja, 5M menyediakan logika penyebab, PCDA menyediakan mekanisme eksekusi, dan dashboard serta analitik memastikan pembelajaran terus berlangsung. Ketika seluruh elemen ini diimplementasikan secara konsisten, organisasi tidak hanya mampu mencapai target, tetapi juga membangun sistem manajemen yang tangguh menghadapi kompleksitas dan perubahan di masa depan”.
Tembagapura – 25/4/2026 (FN)