Leading-Lagging dalam Kepdirjen 10.K/2023

March 28, 2026 Leave a comment

Dalam tulisan saya sebelumnya terkait dengan indikator yang dikembangkan (klik disini), terdapat korelasi antara ISO 45004 – Performance Guideline dengan instrumen pengukuran kinerja KP (Kepdirjen 10.K/2023). Tulisan kali ini lebih memberikan contoh kategori (leading-lagging) dan tipe data (kuantitatif-kualitatif) dalam instrumen pengukuran kinerja KP (Kepdirjen 10.K/2023). Terdapat 194 item dalam instrumen yang dapat kita kelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu leading-kuantitatif (35 item, 18%), leading – kualitatif (121 item, 62%), dan lagging – kuantitatif (38 item, 20%) dengan contoh sebagai berikut,

MetodeContoh
Leading – Kuantitatif1.2.1 Kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja
1 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata < 50% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
2 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 50-69% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
3 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 70-79% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
4 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 80-94% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
5 – kehadiran pekerja dalam pekerjaan di hari kerja (masuk kerja) 2 tahun terakhir rata rata 95-100% dari jumlah pekerja yang seharusnya masuk
Leading – Kualitatif2.1.1 Upaya internalisasi Nilai-nilai inti (Core values) perusahaan oleh manajemen
1 – manajemen tidak melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada pekerja
2 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan hanya kepada sebagian kelompok kerja
3 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada seluruh pekerja
4 – manajemen telah melakukan upaya untuk internalisasi nilai-nilai inti perusahaan dan memasukkan kepada target kinerja pekerja
5 – manajemen telah memberikan contoh nyata aktualisasi nilai-nilai inti perusahaan kepada pekerja
Lagging – Kuantitatif4.10.2 Efektivitas Dokmentasi
1 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 0%
2 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 0.1-1%
3 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 1.1-2%
4 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 2.1-2.9%
5 – nilai rata rata hasil audit SMKP elemen VI dalam 2 tahun terakhir 3%

Tembagapura – 28/3/2026 (FN)

Categories: Culture, Performance

Metode 5 Why dalam analisis insiden

March 14, 2026 Leave a comment

Berikut adalah contoh insiden seorang pekerja terperosok ke dalam lubang sehingga mengakibatkan cedera kaki menggunakan metode 5 Why,

  • Seorang pekerja terperosok ke dalam lubang. Why?
  • Pekerja tidak melihat lubang tersebut. Why?
  • Kondisi sekitar gelap menjelang malam. Why?
  • Pekerja tersebut kerja lembur (single root cause)
  • Tindakan koreksi: melakukan konseling kepada pekerja tersebut untuk lebih berhati-hati ketika berjalan pulang menjelang malam karena lembur

Pertanyaan selanjutnya adalah Apakah dengan menemukan single root cause dan juga tindakan koreksi di atas akan mencegah kejadian yang sama terulang kembali? Apakah konsekuensi yang timbul dapat lebih buruh dari cedera kaki? Jawaban terhadap dua pertanyaan ini menentukan apakah perlu dilakukan analisis lebih mendalam atau tidak.

Berikut adalah pertanyaan yang dapat diajukan terkait insiden di atas apabila hendak dilakukan analisis mendalam,

  1. Bagaimana proses terbentuknya lubang tersebut?
  2. Apakah tidak ada lampu penerangan menjelang malam?
  3. Apakah tidak ada tanda peringatan/demarkasi adanya lubang tersebut?

Menggunakan metode 5 Why untuk setiap pertanyaan di atas akan memberikan multiple root causes sebagai berikut,

  1. Lubang tersebut terbentuk karena ada aktivitas lalu lalang alat berat di lokasi
  2. Lampu penerangan ada tapi dalam kondisi mati sejak 2 minggu yang lalu
  3. Ada tanda/rambu peringatan adanya lubang tersebut tapi tidak terlihat karena terlalu kecil

Alhasil tindakan koreksi yang dibuat adalah sebagai berikut,

  1. Membatasi pergerakan lalu lalang alat berat di lokasi
  2. Memperbaiki lampu penerangan
  3. Membuat tanda/rambu yang lebih terlihat dan/atau demarkasi sampai lubang tersebut ditutup/diperbaiki

Tembagapura- 14/03/2026 (FN)

Jenis Bukti Asesmen Kompetensi

March 7, 2026 Leave a comment

Dalam tulisan saya sebelumnya terkait Metode dan Instrumen Asesmen terdapat 6 metode asesmen yang dapat dilakukan untuk mengumpulkan bukti asesmen kompetensi. Metode asesmen tersebut digunakan sesuai dengan jenis bukti yang dipersyaratkan. Terdapat 3 jenis bukti asesmen kompetensi yaitu bukti Langsung, Tidak Langsung, dan Tambahan (jika diperlukan sebagai pelengkap bukti langsung/tidak langsung) dengan penjelasan sebagai berikut,

  1. Bukti Langsung
    • didapatkan dengan pengamatan langsung oleh asesor
    • bisa menggunakan metode observasi langsung (psikomotorik lewat praktek/demontrasi di tempat kerja atau simulasi) atau kegiatan terstruktur (kognitif lewat skenario kegiata terstruktur/studi kasus)
    • apabila dirasakan kurang dapat menggunakan bukti tambahan berupa tes tertulis atau tes lisan
  2. Bukti Tidak Langsung
    • didapatkan dari verifikasi hasil karya/portofolio asesi oleh asesor
    • bia menggunakan metode verifikasi portofolio atau review produk
    • apabila dirasakan kurang dapat menggunakan bukti tambahan berupa pertanyaan wawancara atau verifikasi pihak ketiga

Tembagapura – FN (07/03/2026)

Categories: Asesmen

Bias Keinginan Sosial

February 28, 2026 Leave a comment

Ada pertanyaan yang masuk ke inbox saya terkait dengan Bagaimana memastikan kuesioner/survei yang diisi oleh pekerja benar2 mencerminkan realitas di lapangan terutama terkait dengan skala likert dimana responden cenderung memilih hal-hal yang baik/diharapkan baik daripada memilih sebaliknya. Dalam konteks penelitian, hal ini disebut sebagai sampling error dimana hal ini disebabkan karena pemilihan responden yang tidak mewakili populasi dan/atau Bias Keinginan Sosial (Social Desirability Bias). Bias Keinginan Sosial adalah kecenderungan seseorang untuk memberikan jawaban yang menurut norma sosial dianggap baik meskipun itu tidak sesuai dengan realitas yang ada.

Berikut adalah contoh instrumen yang telah saya sesuaikan untuk digunakan bersama-sama dengan instrumen kuesioner/survei yang ada untuk melihat korelasi dan sejauh mana responden memberikan jawaban yang jujur/berpura-pura jujur.

PertanyaanB (Benar) / S (Salah)
Saya selalu melaporkan setiap insiden yang saya lihat tanpa terkecualiB / S
Saya tidak pernah merasa malas untuk menggunakan APDB / S
Saya selalu mengikuti seluruh langkah dalam prosedur kerjaB / S
Saya tidak pernah merasa kesal/marah ketika ditegur oleh pengawas/petugas keselamatanB / S
Saya selalu memeriksa keselamatan area/peralatan kerja sebelum dan sesudah melakukan pekerjaanB / S
Saya tidak pernah mengabaikan satu pun instruksi/rambu keselamatanB / S
Saya selalu jujur mengakui jika saya merasa lelah/fatigueB / S
Saya tidak pernah bicara negatif tentang pimpinan/manajemenB / S
Saya tidak pernah absen dalam setiap pertemuan keselamatanB / S
Saya selalu menindaklanjuti rekomendasi temuan dengan senang hatiB / S

Intepretasi Nilai: Jika Jumlah Benar (0 – 3): Bias Rendah, (4 – 7): Bias Menengah, (8 – 10): Bias Tinggi

Tembagapura – FN (28/2/2026)

Categories: Culture

Proses Pengelolaan Mitra Kerja

February 22, 2026 Leave a comment

Mengadopsi ISO 31000, Pengelolaan Mitra Kerja memiliki Prinsip, Kerangka, dan Proses Pengelolaaan Berbasis Risiko. Prinsip pengelolaan mitra kerja merupakan panduan nilai yang diperlukan untuk setiap tahapan kerangka dan/atau proses pengelolaan mitra kerja, meliputi integritas, kehati-hatian, kemandirian, kompetitif, transparan, adil, akuntabel, efektif, dan efisien. Kerangka pengelolaan mitra kerja mengikuti pola PDCA dalam tulisan saya sebelumnya (klik disini). Proses pengelolaan mitra kerja merupakan desain dan implementasi dari Kerangka pengelolaan mitra kerja yang dapat digambarkan sebagai berikut,

Penilaian RisikoPra-KualifikasiSeleksiAktivitas Pra-KerjaPelaksanaan PekerjaanEvaluasi
Pemillik ProyekMembuat SOW (Scope of Work)

Mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan peringkat risiko (Tinggi,Menengah, Rendah)
Membuat dan mengirimkan daftar pertanyaan dan periksa berisi persyaratan yang perlu diisi dan dilengkapi oleh mitra kerjaMenilai dan memilih mitra kerja terbaik berdasarkan persyaratan dalam daftar periksa sebagai pemenangMelakukan koordinasi dengan mitra kerja pemenang untuk mobilisasi dan pemenuhan persyaratanMelakukan pengawasan dan pemantauan selama pekerjaanMelakukan evaluasi berkala dan akhir

Memberikan masukan kepada mitra kerja
Mitra KerjaMengisi, melengkapi, dan mengirimkan persyaratan dalam daftar pertanyaan dan periksaMemberikan penawaranMelakukan mobilisasi dan memenuhi persyaratan sesuai hasil koordinasiMelakukan pekerjaan sesuai SOWMenindaklanjuti masukan dari pemilik proyek

Tembagapura – FN (22/2/2026)

Categories: Contractor Management