Metode 5 Why dalam analisis insiden

Berikut adalah contoh insiden seorang pekerja terperosok ke dalam lubang sehingga mengakibatkan cedera kaki menggunakan metode 5 Why,
- Seorang pekerja terperosok ke dalam lubang. Why?
- Pekerja tidak melihat lubang tersebut. Why?
- Kondisi sekitar gelap menjelang malam. Why?
- Pekerja tersebut kerja lembur (single root cause)
- Tindakan koreksi: melakukan konseling kepada pekerja tersebut untuk lebih berhati-hati ketika berjalan pulang menjelang malam karena lembur
Pertanyaan selanjutnya adalah Apakah dengan menemukan single root cause dan juga tindakan koreksi di atas akan mencegah kejadian yang sama terulang kembali? Apakah konsekuensi yang timbul dapat lebih buruh dari cedera kaki? Jawaban terhadap dua pertanyaan ini menentukan apakah perlu dilakukan analisis lebih mendalam atau tidak.
Berikut adalah pertanyaan yang dapat diajukan terkait insiden di atas apabila hendak dilakukan analisis mendalam,
- Bagaimana proses terbentuknya lubang tersebut?
- Apakah tidak ada lampu penerangan menjelang malam?
- Apakah tidak ada tanda peringatan/demarkasi adanya lubang tersebut?
Menggunakan metode 5 Why untuk setiap pertanyaan di atas akan memberikan multiple root causes sebagai berikut,
- Lubang tersebut terbentuk karena ada aktivitas lalu lalang alat berat di lokasi
- Lampu penerangan ada tapi dalam kondisi mati sejak 2 minggu yang lalu
- Ada tanda/rambu peringatan adanya lubang tersebut tapi tidak terlihat karena terlalu kecil
Alhasil tindakan koreksi yang dibuat adalah sebagai berikut,
- Membatasi pergerakan lalu lalang alat berat di lokasi
- Memperbaiki lampu penerangan
- Membuat tanda/rambu yang lebih terlihat dan/atau demarkasi sampai lubang tersebut ditutup/diperbaiki
Tembagapura- 14/03/2026 (FN)
Jenis Bukti Asesmen Kompetensi

Dalam tulisan saya sebelumnya terkait Metode dan Instrumen Asesmen terdapat 6 metode asesmen yang dapat dilakukan untuk mengumpulkan bukti asesmen kompetensi. Metode asesmen tersebut digunakan sesuai dengan jenis bukti yang dipersyaratkan. Terdapat 3 jenis bukti asesmen kompetensi yaitu bukti Langsung, Tidak Langsung, dan Tambahan (jika diperlukan sebagai pelengkap bukti langsung/tidak langsung) dengan penjelasan sebagai berikut,
- Bukti Langsung
- didapatkan dengan pengamatan langsung oleh asesor
- bisa menggunakan metode observasi langsung (psikomotorik lewat praktek/demontrasi di tempat kerja atau simulasi) atau kegiatan terstruktur (kognitif lewat skenario kegiata terstruktur/studi kasus)
- apabila dirasakan kurang dapat menggunakan bukti tambahan berupa tes tertulis atau tes lisan
- Bukti Tidak Langsung
- didapatkan dari verifikasi hasil karya/portofolio asesi oleh asesor
- bia menggunakan metode verifikasi portofolio atau review produk
- apabila dirasakan kurang dapat menggunakan bukti tambahan berupa pertanyaan wawancara atau verifikasi pihak ketiga
Tembagapura – FN (07/03/2026)
Bias Keinginan Sosial

Ada pertanyaan yang masuk ke inbox saya terkait dengan Bagaimana memastikan kuesioner/survei yang diisi oleh pekerja benar2 mencerminkan realitas di lapangan terutama terkait dengan skala likert dimana responden cenderung memilih hal-hal yang baik/diharapkan baik daripada memilih sebaliknya. Dalam konteks penelitian, hal ini disebut sebagai sampling error dimana hal ini disebabkan karena pemilihan responden yang tidak mewakili populasi dan/atau Bias Keinginan Sosial (Social Desirability Bias). Bias Keinginan Sosial adalah kecenderungan seseorang untuk memberikan jawaban yang menurut norma sosial dianggap baik meskipun itu tidak sesuai dengan realitas yang ada.
Berikut adalah contoh instrumen yang telah saya sesuaikan untuk digunakan bersama-sama dengan instrumen kuesioner/survei yang ada untuk melihat korelasi dan sejauh mana responden memberikan jawaban yang jujur/berpura-pura jujur.
| Pertanyaan | B (Benar) / S (Salah) |
|---|---|
| Saya selalu melaporkan setiap insiden yang saya lihat tanpa terkecuali | B / S |
| Saya tidak pernah merasa malas untuk menggunakan APD | B / S |
| Saya selalu mengikuti seluruh langkah dalam prosedur kerja | B / S |
| Saya tidak pernah merasa kesal/marah ketika ditegur oleh pengawas/petugas keselamatan | B / S |
| Saya selalu memeriksa keselamatan area/peralatan kerja sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan | B / S |
| Saya tidak pernah mengabaikan satu pun instruksi/rambu keselamatan | B / S |
| Saya selalu jujur mengakui jika saya merasa lelah/fatigue | B / S |
| Saya tidak pernah bicara negatif tentang pimpinan/manajemen | B / S |
| Saya tidak pernah absen dalam setiap pertemuan keselamatan | B / S |
| Saya selalu menindaklanjuti rekomendasi temuan dengan senang hati | B / S |
Intepretasi Nilai: Jika Jumlah Benar (0 – 3): Bias Rendah, (4 – 7): Bias Menengah, (8 – 10): Bias Tinggi
Tembagapura – FN (28/2/2026)
Proses Pengelolaan Mitra Kerja
Mengadopsi ISO 31000, Pengelolaan Mitra Kerja memiliki Prinsip, Kerangka, dan Proses Pengelolaaan Berbasis Risiko. Prinsip pengelolaan mitra kerja merupakan panduan nilai yang diperlukan untuk setiap tahapan kerangka dan/atau proses pengelolaan mitra kerja, meliputi integritas, kehati-hatian, kemandirian, kompetitif, transparan, adil, akuntabel, efektif, dan efisien. Kerangka pengelolaan mitra kerja mengikuti pola PDCA dalam tulisan saya sebelumnya (klik disini). Proses pengelolaan mitra kerja merupakan desain dan implementasi dari Kerangka pengelolaan mitra kerja yang dapat digambarkan sebagai berikut,
| Penilaian Risiko | Pra-Kualifikasi | Seleksi | Aktivitas Pra-Kerja | Pelaksanaan Pekerjaan | Evaluasi | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Pemillik Proyek | Membuat SOW (Scope of Work) Mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan peringkat risiko (Tinggi,Menengah, Rendah) | Membuat dan mengirimkan daftar pertanyaan dan periksa berisi persyaratan yang perlu diisi dan dilengkapi oleh mitra kerja | Menilai dan memilih mitra kerja terbaik berdasarkan persyaratan dalam daftar periksa sebagai pemenang | Melakukan koordinasi dengan mitra kerja pemenang untuk mobilisasi dan pemenuhan persyaratan | Melakukan pengawasan dan pemantauan selama pekerjaan | Melakukan evaluasi berkala dan akhir Memberikan masukan kepada mitra kerja |
| Mitra Kerja | Mengisi, melengkapi, dan mengirimkan persyaratan dalam daftar pertanyaan dan periksa | Memberikan penawaran | Melakukan mobilisasi dan memenuhi persyaratan sesuai hasil koordinasi | Melakukan pekerjaan sesuai SOW | Menindaklanjuti masukan dari pemilik proyek |
Tembagapura – FN (22/2/2026)
Contractor Engagement
Tulisan saya sebelumnya terkait Employee Engagement, menginspirasi saya untuk melakukan modifikasi sedikit untuk mengukur Contractor Engagement. Kontraktor yang beragam jumlah dan budayanya tentu saja membutuhkan penanganan/pengelolaan yang berbeda dari sisi program maupun target yang ditetapkan oleh pemilik proyek. Berikut adalah contoh kuesioner yang dapat digunakan dengan responden adalah PJO/Penanggung Jawab Proyek/Manager Proyek dari kontraktor yang ada. Tingkat engagement yang tinggi mencerminkan adanya keselarasan dengan pemilik proyek, sedangkan tingkat engagement yang rendah mencerminkan kebalikannya.
| Pernyataaan | Sangat Tidak Setuju (1) – Tidak Setuju (2) – Netral (3) – Setuju (4) – Sangat Setuju (5) |
|---|---|
| Saya memahami dengan jelas lingkup kerja (scope) dan ekspektasi hasil yang diinginkan pemilik proyek. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Pemilik proyek menyediakan data, akses, atau sarana yang diperlukan agar kami bisa bekerja dengan aman dan efisien. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Saya merasa memiliki kesempatan untuk memberikan hasil kerja terbaik sesuai standar keahlian kami. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Pemilik proyek memberikan apresiasi atau umpan balik positif atas progres kerja yang tercapai tepat waktu/kualitas. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Perwakilan pemilik proyek bersikap profesional dan menghargai kami sebagai mitra bisnis. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Ada jalur komunikasi yang jelas untuk mendiskusikan kendala teknis atau perubahan lapangan. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Saya merasa masukan atau saran teknis dari tim kami dipertimbangkan oleh pemilik proyek. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Visi dan tujuan proyek ini membuat tim kami merasa pekerjaan ini penting untuk diselesaikan dengan baik. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Pihak pemilik proyek berkomitmen penuh terhadap standar keselamatan kerja (K3) di lokasi. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Saya merasa hubungan kerja sama ini bersifat saling menguntungkan (win-win) bagi kedua belah pihak. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Dalam periode berkala, pemilik proyek memberikan evaluasi kinerja yang objektif dan membangun. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Melalui proyek ini, tim kami mendapatkan pengalaman atau pengetahuan baru yang berharga. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Saya memahami arah strategis jangka panjang dari kerja sama dengan pemilik proyek ini. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Budaya kerja yang diterapkan pemilik proyek sejalan dengan nilai-nilai profesionalisme perusahaan kami. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
| Manajemen puncak dari pemilik proyek menunjukkan komitmen nyata terhadap keberhasilan proyek ini. | 1 – 2 – 3 – 4 – 5 |
Interpretasi nilai: Engagement tinggi (60-75); Engagement sedang (45-59); Engagement rendah (15-44)
Tembagapura – FN (21/02/2026)