Berbagi Pengalaman Menimba Ilmu Kesehatan di UNDIP Semarang..Bagian (1)

November 19, 2018 Leave a comment

Banyak hal positif terjadi ketika saya menimba ilmu kesehatan di UNDIP Semarang selama awal semester berjalan, berikut yang bisa saya sharing berikut aplikasinya dalam  K3 Perusahaan:

  • Statistic: uji beda dengan uji t, uji chi square, anova dan uji korelasi dengan pearson, regresi,..(Aplikasi: Statistik Kecelakaan dalam Perusahaan hanya menampilkan data kecelakaan menggunakan variable demografi seperti umur, masa kerja, pendidikan, dll. Pertanyaan menarik dari Statistik adalah seberapa kuat pengaruh variable tersebut terhadap kecelakaan kerja ? apakah ada persamaan matematis yang bisa dibuat sehingga dengan mengetahui besaran variabel tersebut dapat ditentukan berapa % kecelakaan akan terjadi?)
  • Filsafat ilmu: perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat perlu dikembalikan ke solusi filsafat supaya tidak kebablasan,…(Aplikasi: Solusi Filsafat selalu mempertanyakan jawaban yang diberikan sampai kepada dasarnya, dalam Perusahaan selalu ditanyakan root cause dari sebuah Kecelakaan kerja dengan harapan root cause ditemukan maka kecelakaan tidak akan terjadi lagi. Pertanyaan Filsafat selalu mempertimbangkan sisi ONTOLOGIS (dasar), EPISTEMOLOGIS (metode), dan AKSIOLOGIS (norma)
  • Ilmu Perilaku: membahas prediktor apa saja yang bisa membentuk perilaku seseorang/kelompok, mulai dari pengetahuan, sikap, keyakinan, persepsi, niat, norma, kontrol, keterampilan, self efficacy, …(Aplikasi: Banyak kali Perusahaan menganalisis unsafe act secara keliru dan dangkal, bisa jadi unsafe act yang terjadi bukan karena kurangnya pengetahuan, tapi karena dia meniru sikap dan perilaku atasan atau rekan kerja yang lain ?
  • Ilmu Kesehatan Kerja: mempelajari anatomi anggota tubuh manusia yang terkena dampak kesehatan akibat lingkungan kerja,…(Aplikasi: menemukan bagaimana sebuah penyakit akibat kerja dapat masuk dalam tubuh seseorang lewat penelitian panjang jarang dilakukan oleh Perusahaan karena keterbatasan waktu , budget maupun resources, apakah Departemen K3 memiliki section penelitian atau RnD)
  • Metodologi penelitian: penelitian cross sectional, case control, cohort , dan experimental (Aplikasi: menemukan bagaimana sebuah penyakit akibat kerja atau kecelkaan kerja dapat masuk dalam tubuh seseorang atau terjadi ke seseorang lewat penelitian panjang jarang dilakukan oleh Perusahaan karena keterbatasan waktu , budget maupun resources,apakah Departemen K3 memiliki section penelitian atau RnD)
  • Promosi Kesehatan: mempelajari bagaimana program kesehatan dijalankan mengikuti Ottawa Charter (Advocate, Mediate, Enable),…(Aplikasi: Promosi Kesehatan tidak hanya lewat Pendidikan ataupun Penyuluhan tapi juga lewat pemberdayaan masyarakat dan usaha mempengaruhi pembuat kebijakan lewat Advokasi. Banyak Perusahaan memberikan pendidikan dan pelatihan K3 tapi jarang mempengaruhi pembuat Kebijakan K3 maupun pemberdayaan karyawan untuk sadar K3 lewat upaya promotif dan preventif
  • Industrial Hygiene: membahas bahaya lingkungan kerja, higiene dan sanitasi, …(Aplikasi: Dalam Permenaker 5 tahun 2018, dijelaskan Bahaya Lingkungan Kerja dari Fisik, Kimia, Biologi, Ergonomik, Psikologi, Higiene dan Sanitasi. Tidak banyak perusahaan yang menaruh minta mendalam terhadap bahaya Psikologi ?
  • Laboratorium K3: mempraktekkan alat pengukuran Lingkungan Kerja, …(Aplikasi: Pengukuran Lingkungan Kerja perlu dikaitkan dengan Pengukuran Tenaga Kerja, contoh Pengukuran kebisingan menggunakan Sound Level Meter dikaitkan dengan Pengukuran Audiometri Tenaga kerja, …)

Semoga bermanfaat

Novento, 11/19/2018

Categories: Education

Peraturan Hygiene Industri di Indonesia

September 13, 2018 1 comment

Ada enam UU yang terkait dengan Industrial Hygiene:

  1. UU 11 tahun 1962 mengatur mengenai hygiene untuk usaha umum dan usaha pemerintah dalam pendidikan, bimbingan, pengawasan da, pemeriksaan hygiene lingkungan, hasil produksi dan penggunaan alat yang dapat membahayakan kesehatan.
  2. UU 2 tahun 1966 mengatur usaha pemerintah dalam UU 11 tahun 1962
  3. UU 14 tahun 1969 mengatur mengenai pembinaan perlindungan kerja melalui norma kesehatan dan hygiene perusahaan
  4. UU 1 tahun 1970 mengatur mengenai keselamatan kerja dengan hygiene sebagai salah satu persyaratannya
  5. UU 13 tahun 2003 mengatur mengenai hak pekerja untuk perlindungan atas K3 dan kewajiban perusahaan menerapkan SMK3
  6. UU 36 tahun 2009 mengatur mengenai upaya pengelolaan kesehatan kerja dan lingkungan

Untuk melaksanakan UU tersebut, maka dari Kementrian Tenaga Kerja dan Kementrian Kesehatan mengeluarkan beberapa Permen-Kepmen terkait dengan hygiene industri…Read More

Semoga Bermanfaat
Novento 13/09/2018

Categories: Safety

An Important Note of ISO 45001:2018

August 25, 2018 Leave a comment

Beberapa masukan dari followers blog ini meminta saya untuk menulis mengenai ISO 45001:2018 (Occupational Health and Safety Management System Requirements) setelah membaca posting saya mengenai ISO 14001:2015. Secara struktur keduanya memiliki template yang sama karena adanya Annex SL, hanya scopenya berbeda karena ISO 45001:2018 berbicara mengenai Sistem Manajemen K3. ISO 45001:2018 ini merupakan upgrade dari OHSAS 18001:2007

Sebelum masuk ke penjelasan mengenai Klausulnya, ada beberapa istilah yang menurut saya menarik untuk dikomentari:

  • worker (3.3 note 2) include top management,managerial and non-managerial persons
  • participation (3.4) and consultation (3.5) includes engaging health and safety committees and workers’ representative (=Komite KP + perwakilan pekerja meminjam istilah SMKP)
  • competence (3.23) ability to apply knowledge and skills to achieve intended results (kata attitude tidak dimasukkan)
  • corrective action (3.36) action to eliminate the cause(s) of nonconformity or an incidents and to prevent recurrence (preventive action sudah masuk dalam definisi ini)

Berikut adalah penjelasan singkat dari Klausul yang ada dalam ISO 45001:2018. Saya hanya mengutip beberapa yang menarik untuk dibaca dalam kutipan merah, versi lengkapnya silahkan dibaca sendiri.

Klausul 4 – Context of the organization

Organisasi harus menentukan faktor internal dan eksternal (4.1) + needs dan expectations dari interested parties (4.2) + planned or performed work-related activities untuk menentukan scope (4.3) dan embuat OH&S Management System (4.4)

Klausul 5 – Leadership and worker participation

  • Leadership and commitment (5.1)
    • protecting workers from reprisals when reporting incidents, hazards, risks and opportunities.
  • OH&S policy (5.2)
  • Organization roles,responsibilities and authorities (5.3)
    • while responsibility and authority can be assigned, ultimately top management is still accountable for the functioning of the OH&S management system
  • Consultation and participation of workers (5.4)
    • obstacles and barriers can  include failure to respond to worker inputs or suggestions, language or literacy barriers, reprisals or threats of reprisals and policies or practices that discourage or penalize worker participation
    • it is recognized that the provision of training at no cost to workers and the provision of training during working hours, where possible, can remove significant barriers to worker participation

Klausul 6 – Planning

  • Actions to address risks and opportunities (6.1)
    • when determining risks and opportunities, the organization shall take into account: hazards, OH&S risks and other risks, OH&S opportunities and other opportunities, legal requirements and other requirements
    • the process of hazard identification shall take into account,but not limited to: …how work is organized, social factors (including workload, work hours, victimization, harassment, and bullying), leadership, and the culture in the organization…
    • the organization’s methodology (ies) and criteria for the assessment of OH&S risks shall be defined with respect to their scope, nature and timing to ensure they are proactive rather than reactive and are used in a systematic way
    • the organization shall take into account the hierarchy of control and outputs from the OH&S management system when planning to take action.
    • when planning its actions, the organization shall consider best practices, technological options and financial, operational and business requirements
  • OH&S Objectives and planning to achieve them (6.2)
    • when planning how to achieve its OH&S objectives, the organization shall determine: what will be done, what resources will be required, who will be responsible, when it will be completed, how the results will be evaluated including indicators for monitoring, how the actions to achieve OHS&S objectives will be integrated into the organization’s business process.

Klausul 7 – Support

  • Resources (7.1)
    • Examples of resources include human, natural, infrastructure, technology and financial.
  • Competence (7.2)
    • ensure the worker are competent (including the ability to identify hazards) on the basic of appropriate education , training or experience
    • applicable actions can include, for example, the provision of training to, the mentoring of, or the re-assignment of currently employed person, or the hiring or contracting of competent persons (training=mentoring, seharusnya kata coaching dimasukan)
  • Awareness (7.3)
    • the ability to remove themselves from work situations that they consider present an imminent and serious danger to their life or health, as well as the arrangement for protecting them from undue consequences for doing so (hanya menghindar atau STOP dan laporkan)
  • Communication (7.4)
    • what it will communicate, when to communicate, with whom to communicate, how to communicate
    • the organization shall take into account diversity aspects (e.g. gender, language, culture, literacy, disability) when considering its communication needs.
  • Documented Information (7.5)
    • creating and updating (7.5.2) and control of documented information (7.5.3)

Klausul 8 – Operation 

  • Operation planning and control (8.1)
    • the organization shall establish, implement and maintain a process(es) for the elimination of hazards and reduction of OH&S risks using the following hierarchy of controls: eliminate the hazard, substitute with less hazardous processes, operation, material or equipment, use engineering controls and reorganization of work, use administrative controls including training, use adequate personal protective equipment
    • the organization shall review the consequences of unintended changes, taking action to mitigate any adverse effects, as necessary (=change management)
    • the organization shall ensure that the requirements of its OH&S management system are met by contractors and their workers. It can be helpful to include the occupational health and safety criteria for the selection of contractors in the contractual documents.
  • Emergency Preparedness and response (8.2)
    • the organization shall establish, implement and maintain a process(es) needed to prepare for and respond to potential emergency situations (Konsep emergency respond meminjam Kepmen ESDM 1827-2018 Lampiran III adalah Identification, Preventive, Preparedness, Respond, dan Recovery)

Klausul 9 – Performance Evaluation

  • Monitoring, measurement, analysis and performance evaluation (9.1)
    • the organization shall establish, implement, and maintain a process (es) for monitoring, measurement, analysis and performance evaluation
    • the organization shall ensure that monitoring and measuring equipment is calibrated or verified as applicable, and is used and maintain as appropriate
    • the organization shall establish, implement and maintain a process (es) for evaluating compliance with legal requirements and other requirements
  • Internal Audit (9.2)
    • the organization shall conduct internal audits at planned intervals to provide information on whether the OH&S management system conforms to the organization’s own requirements for its OH&S management system, including the OH&S policy and OH&S objectives and is effectively implemented and maintained
    • For more information on auditing and the competence of auditors, see ISO 19001
  • Management Review (9.3)
    • top management shall communicate the relevant outputs of management reviews to workers, and where they exist, workers representatives

Klausul 10 – Improvement

  • Incident, nonconformity and corrective action (10.2)
    • the organization shall establish, implement and maintain a process (es), including reporting, investigating and taking action, to determine and manage incidents and nonconformities
    • corrective actions shall be appropriate to the effects or potential effects of the incidents or nonconformities encountered
    • the reporting and investigation of incidents without undue delay can enable hazards to be eliminated and associated OH&S risks to be minimized as soon as possible
  • Continual improvement (10.3)
    • the organization shall continually improve the suitability, adequacy and effectiveness of the OH&S management system

Semoga bermanfaat – Novento 8/25/2018

Categories: Safety

Kawasan Merokok di tempat kerja

August 18, 2018 Leave a comment

Ada pertanyaan nyasar sore ini ke saya mengenai berapa meter jarak Kawasan Merokok dari tempat kerja menurut aturan yang ada, apakah 1 m ? 10 m ? 100 m ? 1000 m ? Cukup menarik karena saya ndak isa jawab 🙂

Mari kita tinjau dulu Historikal dari aturan Kawasan Merokok sebagai berikut:

  • UU 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 115 menyatakan bahwa kawasan tanpa rokok antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan. Dalam  penjelasan disebutkan bahwa Khusus bagi tempat kerja, tempat umum , dan tempat lainnya dapat menyediakan tempat khusus untuk merokok.
  • Lewat Putusan MK Nomor 57/PUU-IX/2011, kata dapat tersebut diuji dan dikabulkan untuk diganti dengan kata  wajib
  • Pasal 51 PP 109/2012 menyatakan bahwa untuk tempat kerja  dan tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan wajib menyediakan tempat khusus untuk merokok, dimana tempat khusus untuk merokok ini merupakan ruang terbuka yang berhubungan langsung dengan udara luar. Dalam penjelasan ruang terbuka adalah ruangan yang salah satu sisinya tidak ada dinding ataupun atapnya sehingga asap rokok dapat langsung keluar di udara bebas.
  • Peraturan Bersama 188/2011 pasal 5 tempat kerja dan tempat lainnya yang ditetapkan dapat menyediakan tempat khusus untuk merokok dengan memenuhi persyaratan berikut:
    • merupakan ruang terbuka atau ruang yang berhubungan langsung dengan udara luar sehingga udara dapat bersikulasi dengan baik
    • terpisah dari gedung/tempat/ruang utama dan ruang lain yang digunakan untuk beraktivitas
    • jauh dari pintu masuk dan keluar; dan
    • jauh dari tempat orang berlalu lalang
  • Bagaimana jika tidak ada ruang terbuka tapi tertutup ? Dalam PP 19 tahun 2003 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan pasal  23 menyatakan bahwa pimpinan atau penanggungjawab tempat umum dan tempat kerja yang menyediakan tempat khusus untuk merokok harus menyediakan alat penghisap udara sehingga tidak menganggu kesehatan bagi yang tidak merokok

Dari Uraian diatas masih belum bisa menjawab berapa meter ? ini diserahkan kepada masing-masing daerah / instansi dengan Perda atau Peraturan Perusahaan sesuai dengan kaidah perundangan diatas. Studi independent ada yg menyatakan 44 meter , ada juga yg menyatakan 10 meter ? 100 meter ? 1000 meter ?

Semoga bermanfaat – Novento 8/18/2018

Categories: Safety

Teori Keseimbangan

August 14, 2018 Leave a comment

Dalam pelatihan awal kepemimpinan biasanya kita diminta untuk membuat Visi – Misi – Goals diri sendiri yang disandingkan dengan Organisasi untuk mendapatkan titik temu dan saling untung satu dengan lainnya.

Pertama yang kita lakukan adalah membuat Balancing (Teori Keseimbangan) dimana kita diminta untuk melihat gambaran diri kita lewat pendekatan MBS (Mind, Body, Soul) dengan skala Likert.

# Seberapa jauh kita menilai Mind Kita terkait dengan Pekerjaan, Sekolah, Membaca, …

# Seberapa jauh kita menilai Body kita terkait dengan Olahraga jasmani, makanan, Finance, Istirahat, …

# Seberapa jauh kita menilai Soul kita terkait dengan Persahabatan, Meditasi, Ibadah, Doa, Sosial, …

Kedua yang kita lakukan adalah membuat Goals berdasarkan hasil Balancing pada poin Pertama sebagai contoh untuk Mind kita bisa menetapkan goals Membaca 1 buku per minggu, untuk Body bisa berjalan kaki 1 x per hari, untuk Soul bisa beribadah 1 x per minggu, dst….

Ketiga yang kita lakukan setelah semua goals diatas ditetapkan adalah memasukannya dalam skala prioritas untuk dikerjakan berdasarkan matrix Steven Covey berikut:

# Urgent and Important

# Urgent but Not Important

# Not Urgent but Important

# Not Urgent and Not Important

Keempat yang kita lakukan adalah melaksanakan goals yang telah ditepatkan berdasarkan skala prioritas dan membuat komitmen untuk reward jika melakukan dan penalti jika tidak melakukan

Kelima yang kita lakukan adalah memulai lagi dari langkah pertama jika misalnya karena satu dan lain tidak berjalan sebagaimana direncanakan karena demotivasi atau faktor lain di luar kontrol kita.

Semoga bermanfaat – Novento 8/14/2018

Categories: Leadership