Archive

Author Archive

Audit Internal SMK3/SMKP

October 25, 2020 Leave a comment

Audit internal SMK3/SMKP merupakan salah satu kewajiban perusahaan nontambang/tambang yang memiliki sitem manajemen K3/KP sebagaimana diatur dalam Peraturan Perundang-undangan. Tujuan dari audit internal SMK3/SMKP dapat dijabarkan sebagai berurut sebagai berikut:

  1. mengetahui tingkat penerapan SMK3/SMKP di perusahaan tersebut
  2. mengetahui ketidakpatuhan terhadap kriteria audit dalam setiap elemen dan sub elemen
  3. melakukan koreksi terhadap ketidakpatuhan di poin 2
  4. melakukan analisis ketidakpatuhan dengan menggunakan metode tertentu (5 Why, Fish Bone, …) untuk mengetahui Akar Penyebab nya (Root Cause)
  5. melakukan tindakan koreksi terhadap akar penyebab di poin 4
  6. mengevalusi keefektifan koreksi dan/atau tindakan koreksi yang telah dilakukan pada audit sebelumnya untuk perbaikan berkelanjutan (continual improvement)
  7. menghubungkan data statistik kecelakaan kerja sebagai variabel terikat dengan variable bebas seperti tingkat penerapan SMK3/SMKP, ketidakpatuhan, koreksi/tindakan koreksi, ….

Mengetahui tingkat penerapan SMK3/SMKP di perusahaan merupakan skor/angka persentase keseluruhan nilai/bobot elemen dan subelemen. Dengan mengetahui posisi perusahaan tersebut dibandingkan dengan nilai/bobot maksimal, maka dapat dibuat ranking/peringkat perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan yang lain.

Mengetahui ketidakpatuhan terhadap kriteia audit dalam setiap elemen dan sub elemen memberikan gambaran detail lubang-lubang terbuka yang perlu ditambal/diperbaiki oleh perusahaan untuk memenuhi kriteria audit yang telah disepakati dalam setiap elemen maupun sub-elemen.

Melakukan koreksi merupakan usaha untuk menutup lubang-lubang ketidakpatuhan di atas dalam jangka pendek supaya tidak terbuka.

Melakukan analisis ketidakpatuhan terhadap ketidakpatuhan di atas untuk mendapatkan root cause memberikan analisis yang lebih mendalam terhadap lubang-lubang yang terbuka, sehingga hanya muncul satu/dua lubang saja yang kritikal untuk diperbaiki dalam sudut pandang sistem dan keterkaitan satu elemen dengan elemen lainnya. analisis ini membutuhkan pemikiran sistem dan sudut pandang dari kacamata manajemen.

Melakukan tindakan koreksi merupakan usaha untuk menutup lubang akar penyebab dalam jangka panjang sehingga tidak terbuka/terjadi lagi di kemudian hari.

Melakukan evaluasi koreksi/tindakan koreksi dari audit sebelumnya memberikan gambaran seberapa efektif dan efisien upaya yang telah dilakukan selama satu periode audit. hal ini juga menunjukkan seberapa tinggi komitmen manajemen dalam menetukan prioritas terhadap perbaikan sistem.

Menghubungkan data statistik kecelakaan kerja sebagai variabel terikta dan variable bebas seperti tingkat penerapan, tingkat ketidakpatuhan, tingkat koreksi, tingkat produksi, tingkat budaya K3 dan yan lain membutuhkan kajian mendalam / penelitian ilmiah baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan analisis statistik / tematik.

semoga membantu

Fendy Novento

Categories: Safety

Promosi K3 Revisi

November 24, 2019 Leave a comment

Beberapa paparan dan tulisan mengenai promosi K3 mengambil referensi dari Promosi Kesehatan Ottawa Charter tahun 1986 dengan tiga strategi dan lima action yang jika dibaca menjadi terputus ketika masuk dalam implementasi K3 karena ada kata Keselamatan di dalamnya. Hal ini cukup menganggu jika memahaminya secara keliru.

Promosi kesehatan bermula dari pendidikan kesehatan yang tidak cukup untuk merubah perilaku sehat, sehingga dibuatlah social support/bina suasana/mediasi dan advokasi yang selanjutnya menjadi tiga strategi wajib untuk promosi kesehatan. Tiga strategi ini dituangkan dalam lima action yaitu membangun kebijakan publik, menciptakan lingkungan yang mendukung, memperkuat gerakan masyarakat, mengembangkan keterampilan individu, reorientasi pelayanan kesehatan.

Dalam konteks K3, tiga strategi dan lima actikn ini sudah terintegrasi dalam sistem manajemen K3 mulai dari policy (advokasi, kebijakan publik), perencanaan dan organisasi (education, social support, lingkungan yang mendukung, gerakan masyarakat, kompetensi individu), implementasi, evaluasi monitoring, dokumentasi, dan tinjauan manajemen.

Reorientasi pelayanan artinya merubah mindset dari korektif dan rehabilitatif setelah kecelakaan kerja, tapi menjadi preventif lewat manajemen risiko, pendidikan dan pelatihan yang kemudian ditambahkan dengan menciptakan organisasi dan lingkungan kerja yang selamat, kebijakan dan aturan keselamatan sehingga menjadi aktifitas promosi K3.

Dengan kata lain Promosi K3 dapat dirumuskan = preventif (lewat manajemen risiko, pendidikan dan pelatihan, …) + enforcement kebijakan/aturan + social support /enabling (menciptakan lingkungan kerja dan organisasi yang mendukung K3)/pembinaan/kampanye

Implementasi dari promosi K3, evaluasi tindak lanjut, dokumentasi, dan tinjauan perlu dimasukkan dalam kerangka sistem manajemen K3 dalam perpektif sistem yang bisa melihat secara keseluruhan.

Tembagapura, 24 nov 2019

Fendy Novento

Categories: Safety

The Systemic Approach

April 14, 2019 Leave a comment

Sistem Manajemen K3 sedang menjadi trend di perusahaan tambang di Indonesia, postingan kali ini tidak membahas mengenai smk3 yang digunakan tapi lebih ke konsep dasar filosofis lahirnya pendekatan sistemik

Saya akan mulai dengan Kecelakaan Kerja, kejadian ini merupakan salah satu yang menjadi tujuan utama dari semua perusahaan terkait dengan performance. banyak konsep dan teori yang mencoba mengurai penyebab dari kecelakaan kerja ini dengan harapan bisa melakukan tindakan koreksi untuk prevent kecelakaan kerja. Dua teori yang cukup populer adalah teori Domino oleh Heinrich yang kemudian dikembangkan oleh Frank Bird dan teori swicc cheese yang dikembangkan oleh James Reason.

Kedua teori tersebut terlihat sama karena digambarkan sebagai barisan layer yang sequential padahal seharusnya berbeda. Domino menggunakan istilah unsafe act and/or unsafe condition yang bergerak linear ditarik ke belakang melewati penyebab dasar sampai manajemen kontrol. Swiss cheese menggunakan istilah active failure (=unsafe act) dan latent failure( lubang tersembunyi yang bisa membuka ketika dipicu).

Kedua teori tersebut memiliki kesamaan hakiki untuk mencari kegagalan, entah itu kegagalan manusia dan/atau mesin secara mikro, padahal dalam perpective macro harus dilihat antara manusia, mesin, organisasi yang berada dalan sebuah lingkungan yang dinamis.

Pendekatan sistem menjawab kelemahan dari kedua teori tersebut dan berusaha menempatkan diri dalam skala yang lebih besar dimana kegagalan ditarik lebih jauh lagi ke belakang ke perancangan sistem. rancangan sistem yang buruk berkorelasi dengan kegagalan dan ini menjadi perhatian para perancang sistem dengan mengidentifikasi elemen pokok dan menjabarkannya dalam subelemen, menerapakan, dan mengevaluasi kembali untuk continual improvement.

Salatiga, 13 April 2019

Categories: Safety

Kompetensi K3 Pengawas

February 26, 2019 Leave a comment

Seringkali di lapangan, pembebanan safety diserahkan kepada safety officer/safety supervisor/safety manager!

Pemahaman ini adalah keliru adanya karena bukan mereka yang melakukan day to day operation tapi karyawan dan pengawas operasional lah yang berurusan dengan risiko setiap hari!

Safety officer/safety supervisor/safety manager hanyalah segelintir orang yang memiliki kelebihan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang positif akan safety yang berfungsi sebagai asisten maupun advisor bagi karyawan dan pengawas operasional!

Oleh karena itu, karyawan dan pengawas operasional selain memiliki kompetensi teknis dan managerial, juga memiliki kompetensi safety yang mumpuni!

FN

Categories: Safety

Budaya K3

February 26, 2019 Leave a comment

Bulan K3 tahun 2019 ini menggunakan istilah Budaya K3, pertanyaannya adalah bagaimana mengukur Budaya K3?

asumsi 1:
Budaya K3 diukur dari perilaku yang sudah terbentuk , ini bisa diamati dari observasi / inspeksi di lapangan

asumsi 2:
Budaya K3 diukur dari persepsi, sikap pelaku, ini bisa digali dari interview maupun survey

asumsi 3:
Budaya K3 diukur dari seberapa besar kepemimpinan dan komitmen pimpinan dan pelaku terhadap K3

asumsi 4:
Budaya K3 diukur dari data leading maupun lagging yang ada dalam organisasi

asumsi 5:
Budaya K3 diukur dari seberapa efektif sistem manajemen K3 yang digunakan dalam organisasi

FN

Categories: Safety