Opportunity For Improvement – SMKP Audit

November 8, 2025 Leave a comment

Opportunity For Improvement (OFI) seringkali muncul dalam hasil audit SMKP sebagai salah satu nilai tambah yang diberikan oleh auditor ke auditi. OFI berangkat dari temuan kesesuaian (Conformity), sedangkan CAPA/PICA muncul dari temuan ketidaksesuaian(Non Conformity). Pertanyaan yang sering muncul dari auditor adalah referensi apa yang dapat digunakan untuk membuat OFI. Berikut adalah dua hal yang bisa digunakan sebagai referensi,

ISO 45001:2018 klausul 10.3 peningkatan berkelanjutan memberikan beberapa contoh OFI seperti teknologi baru; praktik kerja baik (good practice); saran dan rekomendasi pihak terkait; pengetahuan dan pemahaman baru; bahan yang baru atau lebih baik; perubahan kapasitas/kompetensi pekerja; mencapai perbaikan kinerja dengan sumber daya yang lebih sedikit/efisiensi.

Kepdirjen 10.K/2023 memiliki 5 tingkatan penilaian dari tingkat dasar, reaktif, terencana, proaktif, dan resilient. Kita bisa mengkategorikan menjadi 2 yaitu compliance (terencana) dan beyond compliance (proaktif, resilient) Hal-hal yang disebutkan di beyond compliance dapat dijadikan sebagai OFI. Sebagai contoh di item 3.2.4 Teknik Analisis Kasus KP, di tingkatan compliance perusahaan telah melakukan investigasi kasus KP menggunakan pendekatan analisis simple-linear model dan fokus untuk mendeteksi kausalitas penyebab kecelakaan, sedangkan di tingkatan beyond compliance perusahaan telah menggunakan pendekatan analisis complex-linear model atau complex-non linear model untuk mencari kegagalan pada perlindungan berlapis atau mengapa kontrol yang ada gagal untuk mendeteksi/mencegah kecelakaan.

Korelasi sub elemen SMKP dengan item dalam Kepdirjen 185/2019 dapat ditemukan dalam tulisan saya berikut (Korelasi SMKP dan Penilaian Kinerja KP)

Semoga bermanfaat – FN

Categories: Audit

Aturan Bukti Asesmen VATM

November 1, 2025 Leave a comment

Dalam sistem asesmen berbasis kompetensi berlaku aturan yang berkaitan dengan mutu bukti yang dikumpulkan. Aturan bukti memberikan pedoman bagi pengumpulan bukti untuk memastikan bahwa bukti adalah Valid, Asli, Terkini, dan Memadai (VATM)

  1. Valid, memenuhi persyaratan dari unit kompetensi atau standar yang spesifik
  2. Asli, merupakan hasil pekerjaan asesi itu sendiri
  3. Terkini, berhubungan dengan keterbaruan dan apakah bukti tersebut berhubungan dengan kompetensi asesi terkini
  4. Memadai, berhubungan dengan banyaknya bukti yang dikumpulkan, memenuhi seluruh aspek dari unit kompetensi, dimensi kompetensi dan employability skills. Sesuai yang direncanakan

Berikut adalah contoh penerapan VATM dalam mereviuw bukti portofolio unit kompetensi mengelola risiko pertambangan (B.05KPM00.001.2)

SkenarioVATM
Seorang peserta memberikan bukti berupa dokumen IBPR dalam 1 tahun terakhir, akan tetapi dalam dokumen tersebut tidak terdapat nama peserta tersebut dalam tim penyusunnyaValid? YA karena dokumen IBPR meliputi elemen yang diminta dari idenfitikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko

Asli? TIDAK karena tidak ada nama peserta sebagai tim penyusun dokumen tersebut

Terkini? YA karena dokumen IBPR tersebut tertanggal 1 tahun terakhir dan masih digunakan

Memadai? TIDAK
Seorang peserta memberikan bukti berupa dokumen JSA yang telah dibuatnya sendiri dalam melakukan pekerjaan sehari-hari di lapanganValid? TIDAK karena dokumen JSA tidak meliputi elemen penilaian risiko

Asli? YA karena dibuat sendiri oleh peserta

Terkini? YA karena digunakan sehari-hari dalam melakukan pekerjaan

Memadai? TIDAK
Seorang peserta memberikan bukti berupa dokumen IBPR 10 tahun terakhir, terdapat nama beliau sebagai anggota tim penyusunValid? YA karena dokumen IBPR meliputi semua elemen dalam Unit Kompetensi

Asli? YA karena ada nama peserta dalam tim penyusun dokumen IBPR

Terkini? TIDAK karena dibuat 10 tahun yang lalu, padahal terdapat perubahan pekerjaan dan risiko dalam waktu sekarang

Memadai? TIDAK
Seorang peserta memberikan bukti berupa dokumen IBPR yang dibuatnya dalam tim dalam 6 bulan terakhirValid? YA karena dokumen IBPR meliputi semua elemen dalam Unit Kompetensi

Asli? YA karena terdapat nama peserta dalam tim penyusun dokumen IBPR tersebut

Terkini? YA karena dibuat dalam 6 bulan terakhir dan masih relevan dengan pekerjaan sekarang

Memadai? YA

Semoga bermanfaat – FN

Categories: Asesmen

Penyebab Insiden Pertambangan

October 26, 2025 Leave a comment

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya terkait Bukti Insiden Pertambangan. Setelah mengumpulkan bukti, langkah berikutnya adalah membuat kronologis kejadian, melakukan analisis kejadian untuk menentukan penyebab langsung dan penyebab dasar, dan membuat kesimpulan (lihat tulisan SNI 7081:2023 Penyelidikan Insiden Pertambangan). Berikut adalah kategori penyebab langsung dan penyebab dasar yang dapat digunakan sebagai acuan,

Penyebab LangsungPenyebab Dasar
Tindakan Tidak Aman
Bekerja dengan kondisi mengantuk (Fatigue)
Bekerja dengan posisi tidak benar
Bekerja dibawah pengaruh alkohol
Bercanda sambil bekerja
Berjalan meniti pipa tanpa alat keselamatan yang sesuai
Melakukan pekerjaan pada area kritis
Melayani mesin yang sedang bergerak
Membuat peralatan keselamatan tidak berfungsi
Memposisikan sebagian tubuh ke titik jepit
Mengabaikan perintah/peraturan/larangan/dll
Mengendarai unit beriringan
Menggunakan alat dengan tidak tepat
Menggunakan alat yang rusak
Menggunakan alat yang tidak lengkap
Mengoperasikan alat melebihi batas kecepatan
Mengoperasikan alat tanpa izin
Merokok di tempat terlarang
Terlalu menforsir tenaga
Tidak memakai APD
Tidak memasang alat pelindung
Tidak mengikuti prosedur kerja
Lain-Lain
Faktor Personal
Kurang kemampuan secara fisik
Kurang kemampuan secara mental
Kurang keterampilan
Kurang pengetahuan
Motivasi keliru
Percaya diri yang berlebih
Stres fisik
Stres mental
Lain – Lain
Kondisi Tidak Aman
Alat/Sistem Pengaman yang tidak ada/tidak lengkap
Arus dan angin kencang
Bagian benda kerja atau material yang tajam
Batu Menggantung tidak digugurkan
Berdebu dan berasap
Housekeeping tidak baik
Hujan/Cuaca
Jalan tidak memadai (blind spot, grade, median, dll)
Kebakaran dan peledakan
Kebisingan tinggi
Komunikasi yang terganggu
Kondisi geologi
Kondisi jalan licin
Kondisi overheat
Lereng Kritis
Penerangan Kurang
Penyangga tidak memadai
Peringatan atau rambu tidak lengkap
Perkakas atau peralatan rusak atau tidak sesuai
Permukaan tidak rata atau berlubang
Pohon yang mengganggu/rebah
Ruang kerja yang terbatas
Sistem atau alat pengaman atau pelindung mesin tidak lengkap
Sistem drainase tidak baik
Sump melebar/meluap
Tali keselamatan tidak sesuai
Temperatur rendah atau tinggi
Tidak adanya akses perlintasan orang yang aman
Tumpukan barang yang tidak aman
Unit parkir di area berbahaya
Ventilasi tidak memadai
Lain – Lain
Faktor Pekerjaan
Bahaya pekerjaan belum teridentifikasi dengan baik
Diklat atau sosialisasi kurang
Komunikasi dan koordinasi kurang
Kualitas kepemimpinan dan pengawasan kurang kurang
Kuantitas kepemimpinan dan pengawasan kurang kurang
Material, perkakas dan peralatan kurang
Pemeliharaan kurang
Pengadaan kurang
Perencanaan teknis atau kerja kurang
Rekayasa kurang
Sistem pembelian atau pemilihan barang kurang
Standar kerja kurang

Semoga bermanfaat – FN

Perhitungan Nilai Kemungkinan dalam Matriks Analisis Risiko

October 19, 2025 Leave a comment

Matriks Analisis Risiko merupakan pendekatan kualitatif yang banyak digunakan untuk menghitung nilai risiko dalam manajemen risiko. Nilai risiko dihitung dengan mengalikan antara nilai konsekuensi/dampak dengan nilai kemungkinan/likelihood untuk mendapatkan nilai yang digradasi menggunakan warna untuk menggambarkan kategori risiko tinggi, sedang, dan rendah. Tulisan ini membahas bagaimana menghitung nilai kemungkinan/likelihood dengan pendekatan empiris dan/atau pendekatan subyektif.

Pendekatan empiris digunakan menggunakan statistik nilai probabilitas, dimana nilai probabilitas dihitung dari jumlah historis kejadian tertentu dalam satu periode waktu dibagi dengan jumlah seluruh kejadian. Sebagai contoh kejadian tertabrak kendaraan dalam 1 tahun terakhir sebanyak 15 kejadian dari total 30 kejadian, maka nilai probabilitasnya adalah 15/30 = 0.50 sehingga sesuai dengan contoh tabel dibawah dimasukkan dalam kategori mungkin terjadi (3)

KategoriNilai Probabilitas
Sangat Sering Terjadi (5)0.8 – 1
Sering Terjadi (4)0.60 – 0.79
Mungkin Terjadi (3)0.40 – 0.59
Jarang Terjadi (2)0.20 – 0.39
Sangat Jarang Terjadi (1)0 – 0.19

Pendekatan subyektif digunakan apabila tidak ada informasi historis kejadian sehingga nilai kemungkinan/likelihood ditentukan dari estimasi jumlah kejadian yang mungkin terjadi berdasarkan keyakinan, perasaaan, pengetahuan, dan pengalaman individu. Oleh karena sifatnya individu, maka nilainya akan ditaksir berbeda-beda antara satu individu dengan lainnya, sehingga diperlukan konsensus/kesepakatan bersama.

KategoriDeskripsi
Sangat Sering Terjadi (5)mungkin terjadi lebih dari 5 kejadian dalam 1 tahun ke depan
Sering Terjadi (4)mungkin terjadi 5 – 10 kejadian dalam 1 tahun ke depan
Mungkin Terjadi (3)mungkin terjadi 2 – 4 kejadian dalam 1 tahun ke depan
Jarang Terjadi (2)mungkin terjadi 1 – 2 kejadian dalam 1 tahun ke depan
Sangat Jarang Terjadi (1)mungkin terjadi 0 kejadian dalam 1 tahun ke depan

Semoga bermanfaat – FN

Categories: Risk Management

Unconscious Biases dalam Safety

October 11, 2025 Leave a comment

Unconscious Biases adalah sikap atau pandangan yang seringkali tidak kita sadari ketika membuat keputusan atau mengambil tindakan. Nama lain dari Unconscious biases ini adalah asumsi atau logical fallacy/sesat pikir yang dalam beberapa hal dapat mengakibatkan kita mengambil keputusan atau tindakan yang salah. Berikut adalah beberapa contoh yang umum yang dapat mempengaruhi keselamatan,

  1. Optimism Bias, kecenderungan untuk mengabaikan risiko dan mempertimbangan peluang/hasil yang positif secara berlebihan, contoh: seorang operator kendaraan mengabaikan temuan negatif dalam pemeriksaan pra operasi kendaraan karena sudah sering mengoperasikan kendaraan tersebut.
  2. Pessimism Bias, kecenderungan untuk mengabaikan peluang/hasil positif dan mempertimbangkan risiko secara berlebihan. contoh: seorang supervisor menolak cara kerja aman yang lebih cepat karena sudah terbiasa dengan cara kerja aman yang membutuhkan waktu lebih lama.
  3. Halo Effect Bias, kecenderungan untuk menilai seseorang berdasarkan karakter menonjol yang terlihat nyata. contoh: seorang supervisor menilai seorang pekerja pasti akan melakukan pekerjaan yang selamat karena pekerja tersebut menggunakan APD lengkap.
  4. Affinity Bias, kecenderungan untuk memilih seseorang yang memiliki kemiripan dengan kita. contoh: seorang supervisor memilih untuk melakukan observasi kepada pekerja yang satu berasal dari daerah yang sama.
  5. Confirmation Bias, kecenderungan untuk mencari data/fakta yang mendukung keputusan kita dan mengabaikan data/fakta yang bertentangan. contoh: seorang auditor melakukan audit dengan mencari bukti yang mendukung temuannya dan mengabaikan bukti lain yang relevan.

Semoga bermanfaat – FN

Categories: Culture