Archive
Internalisasi Core Values dan Golden Rules KP
Internalisasi Core Values (nilai-nilai inti) dan Golden Rules (Aturan Emas) Keselamatan Pertambangan (KP) dilakukan oleh manajemen dalam mengimplementasikan kebijakan KP. Manajemen melakukan upaya tersebut dengan memasukkannya pada target kinerja pekerja dan memberikan contoh aktualisasi nyata di lapangan.
Core values seperti integritas, kejujuran, inovasi, keadilan, akuntabilitas, transparansi, dll mendasari semua aktivitas/proses yang ada dalam perusahaan. Beberapa perusahaan memasukannya dalam kebijakan KP yang disosialisasikan kepada pekerja, dievaluasi pemahamannya, dan diobservasi pelaksanaannya (SMKP I.4-5).
Golden rules seperti izin kerja ketinggian, LOTOTO, APD, ruang terbatas, pre-ops kendaraan, dll merupakan hal wajib yang dilakukan oleh pekerja sebelum dan ketika melakukan pekerjaan berisiko kritis/tinggi. Dalam SMKP IV.1.1-3, Golden rules ini diimplementasikan dalam bentuk prosedur operasi/kerja yang ditetapkan, dikomunikasikan, diterapkan oleh pekerja secara konsisten, dievaluasi dan ditinjau ulang secara berkala.
Semoga bermanfaat – FN
Penilaian Kinerja Keselamatan Pertambangan

Kinerja K3 selalu diukur dengan nilai statistik Frequency Rate dan/atau Severity Rate, padahal nilai statistik tersebut merupakan output dari sebuah proses. Sebagian sumber mendefinisikan proses ini berikut pengukurannya yang sering disebut sebagai leading indicator. Kepdirjen Minerba Nomor 10.K/MB.01/DJB.T/2023 memberikan panduan jelas bagaimana melakukan pengukuran leading indicator tersebut dalam konteks Keselamatan Pertambangan. Di dalamnya, dapat kita temukan 4 indikator kinerja berbobot yang signifikan.
Setiap indikator tersebut memiliki parameter yang diukur menggunakan item rubrik dengan struktur sebagai berikut:
- Partisipasi pekerja (2 parameter, 29 item)
- Tanggung Jawab Pimpinan (8 parameter, 98 item)
- Analisis dan Statistik Insiden (4 parameter, 18 item)
- Upaya Pengendalian Risiko (10 parameter, 49 item)
Setiap item diukur menggunakan skala ordinal 1 s.d. 5 dengan metode pengumpulan data tinjauan dokumen, kuesioner, wawancara, observasi, Focus Group Discussion/FGD, dan/atau simulasi. Hasilnya dikalkulasi dengan bobot setiap parameter untuk mengetahui level tingkat kinerja (Tingkat Dasar, Reaktif, Terencana, Proaktif, Resilient).
Berikut template (Excel) yang dapat digunakan untuk melakukan pengukuran kinerja Keselamatan Pertambangan berdasarkan Kepdirjen 10.K/MB.01/DJB.T/2023. Terdapat 5 sheet di dalamnya, yaitu Penilaian, Rubrik, Kuesioner, Jumlah sample, dan Program.
- Penilaian (anda hanya perlu mengisi sel C2, C3, F2, dan F3)
- Rubrik (anda hanya perlu mengisi sel J, K, L)
- Kuesioner
- Jumlah Sample (anda hanya perlu mengisi sel B10-13, C10-13, E10-13)
- Program (anda hanya perlu mengisi sel C2,C3, I2, I3, F,G,H,I,J, dan K)
Apabila ada pertanyaan lebih lanjut, silahkan menghubungi saya via email fnovento@gmail.com atau WA: 0852-280-63460.
Budaya K3
Bulan K3 tahun 2019 ini menggunakan istilah Budaya K3, pertanyaannya adalah bagaimana mengukur Budaya K3?
asumsi 1:
Budaya K3 diukur dari perilaku yang sudah terbentuk , ini bisa diamati dari observasi / inspeksi di lapangan
asumsi 2:
Budaya K3 diukur dari persepsi, sikap pelaku, ini bisa digali dari interview maupun survey
asumsi 3:
Budaya K3 diukur dari seberapa besar kepemimpinan dan komitmen pimpinan dan pelaku terhadap K3
asumsi 4:
Budaya K3 diukur dari data leading maupun lagging yang ada dalam organisasi
asumsi 5:
Budaya K3 diukur dari seberapa efektif sistem manajemen K3 yang digunakan dalam organisasi
FN
Safety is Passion
Ada beberapa definisi terkait dengan passion, tapi sedikit definisi terkait dengan safety passion. Secara sederhana, saya definisikan safety passion sebagai dorongan untuk selalu mencari kontrol yang lebih baik untuk mencegah kecelakaan dan kinerja K3 yang setinggi-tingginya.
Bagaimana menumbuhkan Safety Passion ?
Berikut adalah dua hal yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut
1) menjadikan safety sebagai values perusahaan, values akan menumbuhkan set of behaviour yang membentuk safety culture
2) safety leadership melalui 4E framework, yaitu
# envision (perencanaan, plan) : policy, tujuan, sasaran, dan program kerja
# enable (organisasi dan personel): komite safety, task force pekerjaan berisiko tinggi, safety officer, …
# empower (implementasi, do): sistem manajemen k3, safety accountability program, meeting, inspeksi, observasi, instalasi dsn perawatan sarana prasarana peralatan
# engage (evaluasi dan monitoring, check and action): feedback, evaluasi kinerja, internal audit,…
Envision ke enable adalah What, enable ke empower adalah How, dan empower ke engage adalah Why.
– FN 2/2/2019 –
Manusia Kardus
Sebagian dari kita berpikir bahwa dengan membatasi ruang gerak manusia lewat aturan, prosedur, hukuman, … akan menghindarkan pekerja dari kecelakaan! Ruang gerak pekerja dibatasi dalam suatu box sehingga ndak memungkinkan pekerja untuk menyimpang di luar box tersebut. Akan tetapi kita lupa bahwa pekerja adalah manusia bukan robot yg bisa diprogram untuk mengikuti kehendak pembuat program. Otak manusia lebih rumit daripada robot dengan perintah pemrograman
Manusia cenderung berperilaku negatif atau menyimpang sudah menjadi kodratnya, orang bijak bilang nobody perfect karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan.
Satu pekerja dari 12 pekerja yang mengalami kecelakaan karena perilaku menyimpang belum tentu memiliki pembeda yang dimiliki oleh 11 pekerja yang selamat! apakah 11 pekerja yg selamat tidak pernah menyimpang ? sekecil apapun itu ? sebesar apapun itu ?
Lantas apa yg menjadi pembeda antara 1 dan 11 pekerja tersebut?