Archive
Teori Motivasi
Banyak Teori Motivasi yang berkembang di pasaran dari A – Z, hanya saya mengambil aliran Tandon Air untuk memudahkan pemahaman. Tandon Air yang sering kita lihat di rumah itu setiap hari akan berkurang airnya karena kita gunakan untuk mandi, minum, masak yang alhasil kita perlu isi lagi supaya penuh kembali.
Kejadian, pemikiran, atau lingkungan negatif akan menguras tandon air kita seperti kecelakaan, macet, promosi yang tertunda, target yg tidak tercapai, project yang gagal, phk, uang hilang, tagihan tak terbayar, masalah anak di sekolah, …
Kejadian, pemikiran, atau lingkungan positif akan mengisi dan memenuhi tandon air yang terkuras seperti promosi, gaji naek, target tercapai, pinjaman modal, anak berprestasi di sekolah, project berhasil, ide cemerlang, …
Prinsip untuk menjaga motivasi adalah setiap 1 liter air negatif yang terkuras dari tandon selalu penuhi dengan 2 liter air positif . Tidak mudah dilakukan tapi juga tidak sulit diwujudkan.
Novento
Responsibility vs Accountability
Banyak orang masih belum dapat memebedakan dengan jelas perbedaan dari Responsibility (Tanggung Jawab) dan Accountability (Tanggung gugat). Kalau kita berbicara mengenai deretan Task (Tugas) yang dapat didelegasikan maka kita berbicara mengenai Responsibility. Contohnya, kita sebagai seorang atasan mendapatkan task memastikan target produksi tercapai dalam xxx ton per hari. Maka task ini bisa kita delegasikan ke anak buah jika kita tidak berada di tempat kerja karena cuti atau sakit. ITULAH RESPONSIBILITY
Tapi…
Jika tidak mencapai target di task tersebut dan ada penalty alias konsekwensi dari tidak tercapainya target atau task tersebut maka disitulah kita berbicara mengenai Accountability (Tanggung Gugat). Dimanapun dan kapanpun kita berada kita sebagai atasan tetap menjadi bagian dari “who is blame ” sesuai dengan dokumen accountability yang dibuat. ITULAH ACCOUNTABILITY
Novento
Selamat hari Guru 2015
Menarik untuk saya tuliskan disini sebagai tulisan tutup tahun 2015. Selama enpat hari ke belakang ini, saya diikutkan dalam sertifikasi instruktur muda dan madya sebagai salah satu prasyarat untuk “mengajar”.
Dalam kesempatan tersebut ada 7 kompetensi yg diukur (muda ) dan ditambahkan 2 kompetensi (madya) sebagai berikut:
1. pemenuhan K3 dengan JSA
2. menyiapkan bahan pelatihan
3. menyiapkan peralatan pelatihan
4. merencanakan program pelatihan
5. membuat rencana sesi
6. menyampaikan sesi pelatihan
7. melatih kelompok kecil
8. membuat dan mempromosikan program pelatihan
9. melakukan kaji ulang pelatihan.
Semua proses diatas merupakan tuntunan urut yang perlu dan wajib dimiliki, dipelajari, diterapkan dan dikaji secara terus menerus oleh seorang instruktur / pengajar sebagai seorang profesional.
Pertanyaan berikutnya yang menarik adalah apakah kesemuanya itu berlaku untuk “guru” ?
Jawabannya tentu saja, setiap guru lewat jalur pendidikan formal/non formal diwajibkan memiliki semua ranah kompetensi diatas, sehingga muncul profesionalisme guru. akan tetapi ada unsur pembeda antara guru dengan instruktur! dan postingan ini akan jadi panjang jika dipaparkan satu persatu, akan tetapi mungkin “quote” berikut akan membantu…
“Kesuksesan seorang instruktur bisa diukur dari kelulusan peserta didiknya akan tetapi kesuksesan seorang guru hanya bisa diukur dari perubahan perilaku peserta didiknya dan ketulusan”
Selamat hari Guru!
Mobile Application dalam Lingkungan Kerja
Banyak perusahaan menerapkan batasan penggunaan aplikasi mobile pada saat jam kerja, padahal kalau misalnya dibuatkan survey kecil2 an, pastinya banyak karyawan lebih banyak menggunakan aplikasi mobile lewat hp mereka,i.e whatsapp, bbm,facebook daripada laptop/komputer kerja mereka.
Andaikan, hal ini kita anggap sebuah peluang, maka perusahaan yang melek informasi akan membuat aplikasi mobile untuk internal group yang tentu saja dampaknya pada efisiensi dan peningkatan productivitas. Bayangkan saja, setiap pekerjaan, ide, rapat, meeting, follow up, temuan bisa diupload ke dalam aplikasi mobile tanpa terkurung oleh waktu dan tempat.
Budaya teknologi mobile mulai merambah ke setiap aspek kehidupan, interaksi sosial bergeser dari temu muka menjadi temu foto/video. pro dan kontra pasti, tapi sekali lagi semua tergantung pada pelaku! Pisau tidak akan membunuh orang, jika hanya digunakan untuk mengiris bawang!
SMART Analysis
Banyak referensi mengenai SMART ( Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Based ) Analysis, namun hanya sedikit yang memberikan 5 menit pemahaman dan terapan langsung di lapangan. Contoh berikut ini sederhana tapi mempunyai makna mendalam untuk pemahaman lebih lanjut mengenai SMART analysis.
Contoh 1:
S: Saya akan menjual mainan anak di online store
M: Saya akan mencari, mendaftar domain di online store dalam waktu 1 bulan, kemudian saya akan upload foto mainan anak yang akan dijual minimal 10 foto per minggu.
A: Saya akan membuat daftar mainan anak Terbaru, kemudian menguploadnya ke online store, dan mempromosikannya lewat facebook dan e-mail group.
R: Dengan menjual mainan anak di online store akan menambah income saya dan juga menjalin relasi dengan orang lain
T: online store akan siap dalam waktu 1 bulan, daftar mainan baru dan foto akan diupload dalam waktu 1 minggu setelahnya.
Contoh 2:
S: Saya akan menulis buku mengenai pernikahan
M: Saya akan mencari referensi lewat internet, melakukan sampling dan survey minimal 10 pasangan suami istri dalam waktu 2 bulan.
A: Saya akan membuat check list pertanyaan yang akan diajukan untuk survey, mendistribusikannya ke tetangga dan teman terdekat, mengikuti dan menampilkan diri dalam forum media
R: Dengan menulis buku mengenai pernikahan akan menambah pengetahuan saya dan juga menjalin relasi dengan orang lain , membagi pengetahuan dengan pasangan suami istri yang lain
T: pembuatan pertanyaan dan check list dalam waktu 1 minggu, survey dalam waktu 2 bulan, dan promosikan ke penerbit dan media massa dalam tenggat 3 bulan sesudah survery dilakukan.