Archive

Archive for the ‘People’ Category

Pengukuran Risk Maturity Level (RML)

February 4, 2026 Leave a comment

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya terkait Maturitas Risiko, berikut adalah instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat maturitas risiko sebagai bahan pertimbangan untuk penyusunan atau intervensi program manajemen risiko

PernyataaanSangat Tidak Setuju (1) – Tidak Setuju (2) – Netral (3) – Setuju (4) – Sangat Setuju (5)
Saya memahami seluruh bahaya, risiko, dan pengendalian di area kerja1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya memiliki kewaspadaan situasi (situational awareness) dan bekerja secara aman1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya berperan aktif dalam perbaikan pengendalian risiko dan aspek K31 – 2 – 3 – 4 – 5
Tim Manajemen Risiko melibatkan perwakilan K3, KO, serta seluruh bagian operasional1 – 2 – 3 – 4 – 5
Tim mampu menyelaraskan pemahaman dan bertukar informasi secara tepat1 – 2 – 3 – 4 – 5
Kolaborasi dalam tim sudah berjalan baik untuk mencapai tujuan bersama1 – 2 – 3 – 4 – 5
Pimpinan dan Pengawas terlibat aktif secara formal dalam manajemen risiko1 – 2 – 3 – 4 – 5
Pengawas memberikan dukungan dan melibatkan seluruh angggota dalam tim1 – 2 – 3 – 4 – 5
KTT/PJO menindaklanjuti hasil evaluasi untuk peningkatan berkelanjutan1 – 2 – 3 – 4 – 5
Perusahaan memiliki risk appetite yagn dinamis dan indikator risiko utama (KRI)1 – 2 – 3 – 4 – 5
Perusahaan memiliki perencanaan cadangan/darurat (contigency planning) yang memadai1 – 2 – 3 – 4 – 5
Metode manajemen risiko dikembangkan terus menerus sesuai regulasi dan kondisi1 – 2 – 3 – 4 – 5

Interpretasi nilai: Maturitas Risiko Tinggi (48 – 60); sedang (36 – 47); rendah (12 – 35)

Tembagapura – FN (2/4/2026)

Categories: Culture, Risk

[Book Review] The Essentials of Risk Management

January 15, 2026 Leave a comment

Buku ini cukup menarik untuk dibaca, ditulis oleh Michel Crouchy, Dan Galai, dan Robert Mark serta diterbitkan oleh McGraw Hill tahun 2023. Berikut adalah beberapa hal yang dapat kita jadikan proposisi untuk bahan diskusi dalam manajemen risiko,

  1. manajemen risiko sering dimasukkan dalam aktivitas mandiri, padahal seharusnya menjadi bagian dari program optimalisasi sebuah proses bisnis
  2. masa depan tidak dapat diprediksi, selalu ada ketidakpastian dan belum ada orang yang dapat memprediksi secara pasti dan konsisten
  3. proses manajemen risiko secara sekuensial tidak dapat dijalankan secara praktis, hari ini terkait dengan identifikasi dan hari lain terkait dengan pemantauan
  4. stategi manajemen risiko meliputi avoid, transfer, mitigate, dan keep
  5. manajemen risiko dan pengambilan risiko (baca insiden) adalah dua sisi sebuah koin, tidak ada yang dapat menduga pasti sisi apa yang akan muncul ketika dilempar jatuh
  6. ketika risiko dihubungkan dengan biaya, maka risiko sebenarnya adalah ketika muncul biaya yang tidak direncanakan (un-expected cost/loss)
  7. ERM (Enterprise Risk Management) adalah usaha untuk menghilangkan silo setiap departemen/bagian/proses dan memasukkan risiko sebagai bagian dari pengambilan keputusan yang holistik
  8. ESG (Environmental Social Governance) membantu mengidentifikasi risiko yang tidak terdeteksi dalam manajemen risiko konvensional, contoh risiko environmental yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan atau operasional
  9. Hati-hati ketika memasukkan angka dalam perhitungan risiko karena angka tersebut bukan angka absolut, kondisi lingkungan bisa berubah setiap saat, contoh bahaya psikologi, teknologi, dll
  10. manager risiko bukan seorang peramal, tugasnya adalah membedah sumber risiko dan membuatnya visible untuk pengambilan keputusan
  11. topologi risiko meliputi market risk, credit risk, liquidity risk, operational risk, legal dan regulatory risk, business risk, strategic risk, dan reputation risk
  12. operational risk meliputi kelemahan operasional termasuk di dalamnya sistem yang tidak memadai, kegagalan manajemen, human error, cybersecurity risk, climate risk, pandemic risk, supply chain risk
  13. manajemen risiko dapat menjadi lebih praktis dengan melakukan hal berikut, 1) tentukan tujuan yang jelas, 2) membuat peta risiko, 3) tentukan instrumen untuk mitigasi risiko, 4) evaluasi kinerja terhadap tujuan
  14. Delapan elemen wajib untuk mengelola operational risk adalah 1) kembangkan kebijakan risiko yg jelas, 2) buat terminologi standar untuk jenis risiko dan kontrol, 3) kembangkan peta proses bisnis, 4) kembangkan risk matriks, 5) tentukan bagaimana mengelola paparan risiko, 6) tentukan bagaimana melaporkan paparan, 7) kembangkan tools untuk analisis risiko, 8) pastikan atribut risiko yang sesuai untuk setiap proses bisnis
  15. Jumlah temuan audit bukanlah KRI (Key Risk Indicator) yang baik karena tidak menampilkan penyebab risiko individual, temuan audit individual adalah KRI yang baik
  16. Operational risk dapat ditampilkan secara visual dalam grafik 2 dimensi dengan sumbu y (severity) dan sumbu x (likelihood)
  17. Stress testing and scenario analysis diperlukan untuk melihat reliabilitas dan menguji ketahanan manajemen risiko dalam berbagai situasi/skenario

Jakarta – FN (14/1/2026)

Categories: Books

[Book Review]Buat Kamu Yang Lelah Bersih-Bersih

December 25, 2025 Leave a comment

Sayo Konishi (2025) adalah seorang konsultan berbenah dan bersertifikat dari Jepang yang menulis buku di atas. Buku ini memberikan panduan untuk kita yang punya niatan untuk selalu bersih dan rapi di rumah, namun selalu gagal dalam eksekusi. Menurut Sayo keberhasilan itu tidak bisa dicapai secara instan/cepat, namun melalui langkah sistematis yang wajib diikuti secara berurutan sebagai berikut,

  1. Memilah, kegiatan memilih barang yang dibutuhkan
  2. Menyimpan, kegiatan menyimpan barang hasil pilah supaya mudah digunakan
  3. Menata, kegiatan mengembalikan barang yang disimpan ke tempat semula
  4. Membersihkan, kegiatan merawat Dan membersihkan debu/kotoran/noda di barang yang kita simpan

Kegiatan 1-2 merupakan kegiatan membentuk lingkungan, sedangkan kegiatan 3-4 adalah kegiatan membentuk kebiasaan.

Semoga bermanfaat – FN

Categories: Books

Employee Engagement

December 14, 2025 1 comment

Employee Engagement merupakah salah satu penentu motivasi dan perilaku seseorang dalam sebuah organisasi, karyawan yang memiliki tingkat engagement tinggi akan berperan serta dalam menjaga keberlangsungan perusahaan termasuk keselamatan dan kesehatan kerja. Berikut adalah contoh instrumen pengukuran dari Gallup yang terdiri atas 15 item dengan reliabilitas alpha Cronbach 0,91 (Tedja FW, 2020),

PernyataaanSangat Tidak Setuju (1) – Tidak Setuju (2) – Netral (3) – Setuju (4) – Sangat Setuju (5)
Saya mengerti apa yang diharapkan di tempat kerja1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya mempunyai materi dan sarana yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan aman1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya memiliki kesempatan untuk melakukan yang terbaik setiap hari di tempat kerja 1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya memperoleh penghargaan/pujian karena melakukan pekerjaan dengan baik dalam tujuh hari terakhir1 – 2 – 3 – 4 – 5
Atasan saya terlihat memedulikan saya sebagai pribadi1 – 2 – 3 – 4 – 5
Ada seseorang di tempat kerja yang mendorong perkembangan saya1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya merasa pendapat saya diperhitungkan di tempat kerja1 – 2 – 3 – 4 – 5
Misi/tujuan perusahaan membuat saya merasa pekerjaan saya penting1 – 2 – 3 – 4 – 5
Rekan kerja saya bertekad untuk melakukan pekerjaan yang berkualitas dan aman1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya mempunyai sahabat di tempat kerja1 – 2 – 3 – 4 – 5
Dalam enam bulan terakhir, seseorang di tempat kerja memberikan umpan balik tentang perkembangan kinerja saya1 – 2 – 3 – 4 – 5
Pada tahun terakhir ini, saya berkesempatan untuk belajar dan berkembang di tempat kerja1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya memahami visi perusahaan dan stategi mencapainya1 – 2 – 3 – 4 – 5
Saya memahami dan melakukan nilai-nilai budaya perusahaan1 – 2 – 3 – 4 – 5
Top/Senior manajemen menjadi contoh/teladan dalam melakukan nilai-nilai budaya perusahaan1 – 2 – 3 – 4 – 5

Interpretasi nilai: Engagement tinggi (60-75); Engagement sedang (45-59); Engagement rendah (15-44)

    Semoga bermanfaat – FN

    Categories: Culture

    Kata Kerja Operasional Ranah Kognitif

    December 13, 2025 Leave a comment

    Dalam tulisan saya sebelumnya terkait taksonomi Bloom (klik disini) terdapat 6 tingkatan berpikir dalam ranah kognitif. Ranah Kognitif adalah kemampuan dalam mengulang atau menyatakan kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari dalam proses pembelajaran yang didapatnya. Berikut adalah kata kerja operasional yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembuatan kompetensi,

    Proses KognitifDefinisiKata Kerja Operasional
    C1-Mengingatmengambil pengetahuan yang relevan dari ingatanmengutip, menyebutkan, menjelaskan, menggambar, membilang, mengidentifikasi, mendaftar, menunjukkan, memberi label, memberi indeks, memasangkan, membaca, menamai, menandai, menghafal, meniru, mencatat, mengulang, mereproduksi, meninjau, memilih, mentabulasi, memberi kode, menulis, menyatakan, menelusuri
    C2-Memahamimembangun arti dari proses pembelajaran, termasuk komunikasi lisan, tertulis, dan gambarmemperkirakan, menjelaskan, menceritakan, mengkategorikan, mencirikan, merinci, mengasosiasikan, membandingkan, menghitung, mengkontraskan, menjalin, mendiskusikan, mencontohkan, mengemukakan, mempolakan, memperluas, menyimpulkan, meramalkan, merangkum, menjabarkan, menggali, mengubah, mempertahankan, mengartikan, menerangkan, menafsirkan, memprediksi, melaporkan, membedakan
    C3-Mengaplikasikanmelakukan atau menggunakan prosedur di dalam situasi yang tidak biasamenugaskan, mengurutkan, menentukan, menerapkan, mengkalkulasi, memodifikasi, menghitung, membangun, mencegah, menggambarkan, menggunakan, menilai, melatih, menggali, mengemukakan, mengadaptasi, menyelidiki, mempersoalkan, mengkonsepkan, melaksanakan, memproduksi, memproses, mengaitkan, menyusun, memecahkan, melakukan, mensimulasikan, mentabulasi, memproses, membiasakan, mengklasifikasi, menyesuaikan, mengoperasikan, meramalkan
    C4-Menganalisismemecah materi ke dalam bagian-bagiannay dan menentukan bagaimana bagian-bagian itu terhubungkan antara bagian dan ke struktur atau tujuan keseluruhanmengaudit, mengatur, menganimasi, mengumpulkan, memecahkan, menegaskan, menganalisis, menyeleksi, merinci, menominasikan, mendiagramkan, mengkorelasikan, menguji, mencerahkan, membagankan, menyimpulkan, menjelajah, memaksimalkan, memerintahkan, mengaitkan, mentrasfer, melatih, mengedit, menemukan, menyeleksi, mengoreksi, mendekteksi, menelaah, mengukur, membangunkan, merasionalkan, mendiagnosis, memfokuskan, memadukan
    C5-Mengevaluasimembuat pertimbangan berdasarkan kriteria atau standarmembandingkan, menyimpulkan, menilai, mengarahkan, memprediksi, memperjelas, menugaskan, menafsirkan, mempertahankan, memerinci, mengukur, merangkum, membuktikan, memvalidasi, mengetes, mendukung, memilih, memproyeksikan, mengkritik, mengarahkan, memutuskan, memisahkan, menimbang
    C6-Mencipta/Membuatmenempatkan unsur-unsur secara bersama-sama untuk membentuk keseluruhan secara koheren atau fungsional, menyusun kembali unsur-unsur ke dalam pola atau struktur barumengumpulkan, mengabstraksi, mengatur, menganimasi, mengkategorikan, membangun, mengkreasikan, mengoreksi, merencanakan, memadukan, mendikte, membentuk, meningkatkan, menanggulangi, mengggeneralisasi, menggabungkan, merancang, membatas, mereparasi, membuat, menyiapkan, memproduksi, memperjelas, merangkum, merekonstruksi, mengarang, menyusun, mengkode, mengkombinasikan, memfasilitasi, mengkonstruksi, merumuskan, menghubungkan, menciptakan, menampilkan

    Semoga bermanfaat – FN

    Categories: Education