Archive
Unconscious Biases dalam Safety

Unconscious Biases adalah sikap atau pandangan yang seringkali tidak kita sadari ketika membuat keputusan atau mengambil tindakan. Nama lain dari Unconscious biases ini adalah asumsi atau logical fallacy/sesat pikir yang dalam beberapa hal dapat mengakibatkan kita mengambil keputusan atau tindakan yang salah. Berikut adalah beberapa contoh yang umum yang dapat mempengaruhi keselamatan,
- Optimism Bias, kecenderungan untuk mengabaikan risiko dan mempertimbangan peluang/hasil yang positif secara berlebihan, contoh: seorang operator kendaraan mengabaikan temuan negatif dalam pemeriksaan pra operasi kendaraan karena sudah sering mengoperasikan kendaraan tersebut.
- Pessimism Bias, kecenderungan untuk mengabaikan peluang/hasil positif dan mempertimbangkan risiko secara berlebihan. contoh: seorang supervisor menolak cara kerja aman yang lebih cepat karena sudah terbiasa dengan cara kerja aman yang membutuhkan waktu lebih lama.
- Halo Effect Bias, kecenderungan untuk menilai seseorang berdasarkan karakter menonjol yang terlihat nyata. contoh: seorang supervisor menilai seorang pekerja pasti akan melakukan pekerjaan yang selamat karena pekerja tersebut menggunakan APD lengkap.
- Affinity Bias, kecenderungan untuk memilih seseorang yang memiliki kemiripan dengan kita. contoh: seorang supervisor memilih untuk melakukan observasi kepada pekerja yang satu berasal dari daerah yang sama.
- Confirmation Bias, kecenderungan untuk mencari data/fakta yang mendukung keputusan kita dan mengabaikan data/fakta yang bertentangan. contoh: seorang auditor melakukan audit dengan mencari bukti yang mendukung temuannya dan mengabaikan bukti lain yang relevan.
Semoga bermanfaat – FN
Kepdirjen 10.K/2023 dan Safety Maturity Level

Kepdirjen 10.K/2023 Penilaian Kinerja Keselamatan Pertambangan (KP) selalu dikaitkan dengan Safety Maturity Level karena hasil dari Penilaian Kinerja KP adalah tingkat maturitas KP yang merupakan data ordinal dari tingkat dasar, reaktif, terencana, proaktif, dan resilient. Berikut adalah dasar teori yang digunakan dalam penyusunan 4 indikator yang disebutkan dalam artikel saya sebelumnya (klik disini).
| Partisipasi Pekerja | Tanggung Jawab Pimpinan Unit Kerja | Analisis dan Statistik KP | Upaya Pengendalian yang Dilakukan |
|---|---|---|---|
| Human Reliability Model Situational Awareness | Management Maturity Model Leadership Maturity Model Collaboration Culture Maturity Model | Data Management Maturity Model Data Processing Maturity Model Personal Knowledge Management Maturity Model Knowledge Management Maturity Model | Asset Management Maturity Model Maintenance Maturity Model Supply Chain Management Maturity Model Human Capital Management Maturity Model Talent Management Maturity Model Education & Learning Maturity Model Communication Maturity Model |
Semoga bermanfaat – FN
RACI Pengelola Keselamatan Pertambangan

Dalam tulisan saya sebelumnya terkait Okupasi Pengelola KP terdapat 4 jabatan/okupasi berikut kompetensi yang dipersyaratkan untuk masing-masing jabatan/okupasi tersebut. Dari tabel tersebut dapat dibuatkan RACI matriks untuk mendefinisikan dan mengkomunikasikan peran dan tanggung jawab dari setiap jabatan/okupasi. RACI matrik digunakan dalam manajemen proyek dengan definisi sebagai berikut,
- R (Reponsible), orang yang melakukan pekerjaan
- A (Accountable), orang yang bertanggung gugat/pengambil keputusan
- C (Consulted), orang yang dicari pendapatnya, komunikasi dua arah
- I (Informed), orang yang diinformasikan, komunikasi satu arah
| Pekerjaan | Safety Officer | Safety Specialist/Supervisor | Safety Superintenden | Safety Manager |
|---|---|---|---|---|
| Mengelola Risiko KP | R | C/I | A | I |
| Mengelola Administrasi KP | R | C/I | A | I |
| Mengelola Lingkungan Kerja | R | C/I | A | I |
| Mengelola Komunikasi KP | R | C/I | A | I |
| Mengelola Inspeksi KP | R | C/I | A | I |
| Mengelola Peraturan perundang-undangan | C | R | A | C/I |
| Mengelola Keadaan Darurat | C | R | A | C/I |
| Mengelola KO pertambangan | C | R | A | C/I |
| Mengelola Penyelidikan Insiden Pertambangan | C | R | A | C/I |
| Menyusun RKAB | C/I | C/I | R | A |
| Mengelola Keselamatan Kerja | C/I | C/I | R | A |
| Mengelola Kesehatan Kerja | C/I | C/I | R | A |
| Mengelola Standar KP | C/I | C/I | R | A |
| Mengelola Audit KP | C/I | C/I | R | A |
| Mengevaluasi Organisasi KP | C/I | C/I | C/I | R/A |
| Mengelola SMKP | C/I | C/I | C/I | R/A |
| Mengelola Program KP | C/I | C/I | C/I | R/A |
Semoga bermanfaat – FN
Prinsip Asesmen Kompetensi

Dalam merencanakan sistem asesmen berbasis kompetensi, untuk memilih perangkat dan metode asesmen yang efektif, berlaku dua peraturan yang memenuni prinsip-prinsip asesmen dan peraturan bukti. Suatu asesmen dianggap adil bila tidak merugikan asesi tertentu, terbuka, bebas dari penyimpangan, dan mendukung asesi.
Prinsip-prinsip asesmen harus mencakup,
- Valid
- seluruh aktivitas asesmen mengacu kepada acuan pembanding yang digunakan
- asesmen dianggap valid apabila asesmen tersebut menilai apa yang diperlukan untuk dinilai
- Reliable
- instruksi yang diberikan kepada peserta sertifikasi memastikan penerapan yang konsisten pada aktifitas asemen dan digunakan oleh asesor yang berbeda, dalam situasi yang berbeda dan peserta sertifikasi yang berbeda, hasilnya tetap konsisten
- asesmen dianggap dapat dipercaya bila hasil-hasilnya diinterpretasikan secara konsisten dari konteks ke konteks dan dari orang ke orang
- Fleksibel
- seluruh aktifitas asesmen memenuhi kebutuhan peserta sertifikasi dan organisasi
- asesmen dianggap fleksibel bila dapat memenuhi kebutuhan serangkaian konteks
- suatu asesmen dianggap tidak fleksibel jika hal itu menolak hasil belajar sebelumnya atau gagal memberikan kesempatan seorang peserta kesempatan kedua atau ketiga untuk diakses
- Adil
- aktifitas-aktifitas asesmen memenuhi kebutuhan dan karakteristik peserta sertifikasi serta bebas dari bias dan memberikan kesempatan bagi peserta sertifikasi yang memiliki kebutuhan khusus
- suatu asesmen dianggap adil bila tidak merugikan peserta tertentu, terbuka, bebas dari penyimpangan, mendukung peserta
Semoga bermanfaat – FN
Pendekatan 5W1H dalam Merencanakan Aktivitas dan Proses Asesmen

Perencanaan adalah penentuan serangkaian ide, gagasan, dan tindakan komprehensif yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pada dasarnya perencanaan adalah kebutuhan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan What, Who, When, Where, Why, dan How yang disingkat 5W1H. Pendekatan 5W1H untuk pembuatan MAPA (Merencanakan Aktivitas dan Proses Asesmen) adalah sebagai berikut,
| What | rencana asesmen dengan pendekatan sistematis untuk asesmen kompetensi, digunakan oleh asesor untuk menentukan seberapa banyak dan seberapa baik asesi mencapai standar kompetensi |
| Why | rencana asesmen kompetensi memainkan peran utama dalam proses asesmen ini karena mengidentifikasi bukti untuk menunjukkan kompetensi dengan metode dan instrumen asesmen serta konteks yang sesuai dengan capaian dan bukti kompetensi asesi |
| Where | LSP, LPK, Lembaga Pendidikan, Industri |
| When | Perencanaan asesmen, dalam rangka: sertifikasi kompetensi, program pelatihan, program pembelajaran, rekrutmen, appraisal, dll |
| Who | asesor kompetensi, instruktur, master trainer, dosen, guru, evaluator program |
| How | terdapat 4 langkah untuk MAPA, yaitu 1. menentukan pendekatan asesmen 2. mempersiapkan rencana asesmen 3. identifikasi persyaratan modifikasi dan kontekstualisasi 4. menyusun instumen asesmen |
Semoga bermanfaat- FN