Gap Analysis Implementasi SMKP

September 14, 2025 Leave a comment

Ada perbedaan mendasar antara gap analysis dengan audit, gap analysis dilakukan sebelum implementasi sedangkan audit dilakukan setelah implementasi sebagai bagian dari evaluasi. Posting kali ini diperuntukkan bagi perusahaan yang ingin mengimplementasikan SMKP. SMKP adalah Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan yang diwajibkan untuk perusahaan tambang/jasa pertambangan sebagaimana diatur dalam Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2018.

Sebagai bagian dari sistem manajemen perusahaan, SMKP merupakan kerangka pengendalian risiko Keselamatan Pertambangan (K3 dan KO) berbasis sistem dengan tujuan untuk menjamin dan melindungi pekerja agar selamat dan sehat dan operasional tambang yang aman, efisien, dan produktif. SMKP terdiri atas 7 Elemen dan 51 sub elemen, di dalam setiap sub elemen tersebut terdapat sub-sub elemen yang memiliki 99 persyaratan.

File gap analysis berbentuk Excel File (download disini) dengan 4 worksheet sebagai berikut,

  1. kriteria temuan, terdapat definisi dari temuan (comply, OFI, not comply)
  2. gap analysis checklist, terdapat 99 persyaratan berikut temuan, bukti pelaksanaan (jika comply) dan deskripsi temuan (jika OFI atau not comply)
  3. gap analysis implementation plan, terdapat temuan OFI/not comply yang perlu dilakukan tindakan koreksi berikut penanggung jawab, batas waktu, progress, status dan keterangan.
  4. implementation progress, terdapat informasi progress implementasi berdasarkan elemen dan sub elemen

Semoga bermanfaat – FN

Pendekatan 5W1H dalam Merencanakan Aktivitas dan Proses Asesmen

September 6, 2025 Leave a comment

Perencanaan adalah penentuan serangkaian ide, gagasan, dan tindakan komprehensif yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pada dasarnya perencanaan adalah kebutuhan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan What, Who, When, Where, Why, dan How yang disingkat 5W1H. Pendekatan 5W1H untuk pembuatan MAPA (Merencanakan Aktivitas dan Proses Asesmen) adalah sebagai berikut,

Whatrencana asesmen dengan pendekatan sistematis untuk asesmen kompetensi, digunakan oleh asesor untuk menentukan seberapa banyak dan seberapa baik asesi mencapai standar kompetensi
Whyrencana asesmen kompetensi memainkan peran utama dalam proses asesmen ini karena mengidentifikasi bukti untuk menunjukkan kompetensi dengan metode dan instrumen asesmen serta konteks yang sesuai dengan capaian dan bukti kompetensi asesi
WhereLSP, LPK, Lembaga Pendidikan, Industri
WhenPerencanaan asesmen, dalam rangka: sertifikasi kompetensi, program pelatihan, program pembelajaran, rekrutmen, appraisal, dll
Whoasesor kompetensi, instruktur, master trainer, dosen, guru, evaluator program
Howterdapat 4 langkah untuk MAPA, yaitu
1. menentukan pendekatan asesmen
2. mempersiapkan rencana asesmen
3. identifikasi persyaratan modifikasi dan kontekstualisasi
4. menyusun instumen asesmen

Semoga bermanfaat- FN

Categories: Asesmen

Kebakaran Kendaraan Listrik dan Baterai Lithium-Ion: Tantangan Baru Bagi Pemadam Kebakaran

September 2, 2025 Leave a comment

Sebuah mobil listrik melaju mulus di jalanan kota—hening, modern, ramah lingkungan. Tapi dalam sekejap, ketenangan berubah menjadi kepanikan. Api menyala dari bawah kendaraan. Asap tebal mengepul. Alarm kendaraan meraung. Dan yang lebih menakutkan: api itu bukan kebakaran biasa. Itu adalah kebakaran baterai lithium-ion, sebuah kebakaran yang bisa menyala kembali berjam-jam atau berhari-hari setelah dianggap padam. Mengapa Kebakaran Kendaraan Listrik Berbahaya?

Penyelidikan dari National Transportation Safety Board (NTSB) mengungkapkan betapa rumitnya tantangan yang dihadapi petugas pemadam:

  • Risiko sengatan listrik yang bisa mematikan.
  • Thermal runaway, reaksi berantai tak terkendali yang membuat baterai memanas sendiri (self-heating) dan mengakibatkan terjadinya penyalaan kembali.
  • Gas yang sangat beracun yang terlepas di udara (hidrogen fluorida (HF), hidrogen sianida (HCN), karbon monoksida (CO), formaldehida, dan metana, beserta senyawa organik volatil (VOCs).
  • Reignition, api yang kembali menyala berjam-jam bahkan berhari-hari setelah padam.
  • Energi tersisa (stranded energy) yang dapat memberikan sengatan listrik, menyebabkan penyalaan kembali, dan melepaskan gas-gas beracun.

Taktik Pemadaman Berdasarkan Riset Terkini

Fire Protection Research Foundation dan NFPA telah melakukan eksperimen langsung untuk menguji strategi pemadaman kebakaran EV. Hasilnya adalah sebagai berikut:

  • Air tetap menjadi media pemadam paling efektif, tetapi posisi baterai, yang biasanya berada di bawah kendaraan, menyulitkan proses pendinginan langsung.
  • Kebakaran dapat menyala kembali beberapa kali, sehingga tim harus tetap siaga di lokasi lebih lama.
  • Solusi alternatif mulai dicoba: beberapa tim tanggap darurat menggunakan EV (Electric Vehicles) Fire Blanket atau merendam kendaraan dalam tangki air untuk mencegah terjadinya penyalaan kembali (reignition).

Di Jerman, pemadam kebakaran menggunakan “S-TYPE Blanket” berbahan kain silika tahan panas hingga 1600°C. Ada juga versi “X-TYPE Blanket”, yang bisa digunakan berkali-kali. Selimut ini dipakai untuk “membungkus” kendaraan, menahan panas, membatasi oksigen, dan mencegah kebakaran ulang.

Sementara di Belanda, mereka menggunakan ultra-high-pressure extinguishing lance—peralatan khusus dengan nozzle yang menyemprotkan (“menyuntikkan”) air langsung ke dalam sel baterai, untuk menghentikan thermal runaway dari dalam.

Pandangan dari Fire Safety Research Institute (FSRI)

FSRI menekankan bahwa pendekatan pemadaman tradisional sering kali tidak efektif untuk kebakaran EV. Dalam eksperimen mereka, mereka menemukan bahwa “Pendekatan pemadaman tradisional tidak begitu efektif pada kebakaran kendaraan listrik dibanding dengan pemadaman pada kendaraan dengan bahan bakar konvensional.” – Adam Barowy, Insinyur Riset, FSRI

Kesenjangan Panduan dan Tantangan Ke Depan

NTSB juga menemukan bahwa banyak panduan respons darurat dari produsen kendaraan tidak memadai, sehingga petugas pemadam sering kali tidak memiliki instruksi yang jelas saat menangani kebakaran EV. NTSB merekomendasikan pembaruan standar keselamatan nasional dan pelatihan yang lebih baik untuk petugas tanggap darurat. Pemadam kebakaran harus beradaptasi dengan taktik yang lebih cerdas, alat yang lebih canggih, dan pemahaman yang lebih dalam. Seperti yang dikatakan FSRI:

Pemahaman yang lebih baik tentang perilaku kebakaran EV akan menghasilkan pendekatan pemadaman yang lebih efektif, agar keselamatan publik tidak menjadi korban inovasi teknologi.”

Artikel ini ditulis oleh Andris Mahulette (andrismahulette@gmail.com), Fire Service Veteran and Lifelong Learner, dengan semangat untuk terus berbagi ilmu dan pengalamannya untuk Indonesia. Perjalanan pendidikannya membawanya hingga ke Kirkwood Community College, di Amerika Serikat, dimana ia mempelajari Emergency Management – Fire Science—yang membentuk dedikasi dan wawasan yang terus ia bagikan hingga hari ini

Metode dan Instrumen Asesmen

August 30, 2025 1 comment

Dalam proses asesmen, metode asesmen dipilih untuk mendukung pengumpulan bukti yang ditetapkan, dengan mempertimbangkan konteks dimana asesmen akan berlangsung. Terdapat 6 Metode Asesmen sebagai berikut,

  1. Observasi Langsung
    • kerja nyata/aktivitas waktu nyata di tempat kerja, aktivitas kerja dalam lingkungan tempat kerja yang disimulasikan
    • kegiatan mengamati aktivitas langsung yang dilakukan oleh peserta pada saat peserta melakukan aktivitas pekerjaan langsung, demonstrasi, simulasi, dan/atau bermain peran
    • perangkat asesmen yang digunakan: CL (Ceklis Observasi, FR.IA.01), TPD (Tugas Praktek Demonstrasi, FR.IA.02), PMO (Pertanyaan Mendukung Observasi, FR.IA.03)
  2. Kegiatan Terstruktur
    • latihan simulasi dan permainan peran, proyek, presentasi, lembar kegiatan
    • kegiatan uji kompetensi bagai asesi yang skemanya sertifikasi berada pada Level 4 keatas, dimana pekerjaannya lebih dominan skill thinking (kerja otak)
    • perangkat asesmen yang digunakan: DIT (Daftar Instruktur Terstruktur, FR.IA.04A), PKT (Penilaian Kegiatan Terstruktur, FR.IA.04B)
  3. Tanya Jawab
    • pertanyaan tertulis, wawancara, asesmen diri, tanya jawab lisan, ujian lisan atau tertulis
    • perangkat asesmen: DPL (Daftar Pertanyaan Lisan, FR.IA.05), DPT (Daftar Pertanyaan Tertulis, FR.IA.06-07), PW (Pertanyaan Wawancara, FR.IA.09)
  4. Verifikasi Portofolio
    • contoh pekerjaan yang disusun oleh kandidat, produk dengan dokumentasi pendukung, bukti sejarah, jurnal atau buku catatan, informasi tentang pengalaman hidup
    • kegiatan verifikasi kecukupan terhadap suatu dokumen atau koleksi bukti (sesuai dengan persyaratan) yang dikumpulkan dan disampaikan oleh asesi dalam kurun waktu tertentu
    • perangkat asesmen yang digunakan: CVP (Ceklis Verifikasi Portofolio, FR.IA.08), PW (Pertanyaan Wawancara, FR.IA.09), VPK (Verifikasi Pihak Ketiga, FR.IA.10)
  5. Reviu Produk
    • produk hasil proyek, contoh produk/hasil kerja
    • perangkat asesmen: CRP (Ceklis Reviu Produk, FR.IA.11)
  6. Klarifikasi Pihak Ketiga
    • testimonial dan laporan dari atasan, bukti pelatihan, pencapaian sebelumnya yang diautentifikasi, wawancara dengan atasan, atau rekan kerja
    • perangkat asesmen: VPK (Verifikasi Pihak Ketiga, FR.IA.10)

Semoga bermanfaat – FN

Categories: Asesmen

Perencanaan Pra-Kebakaran: Perhitungan Kebutuhan Foam

August 23, 2025 Leave a comment

Bayangkan ini: sebuah tangki penyimpanan bahan bakar berkapasitas ratusan ribu liter tiba-tiba terbakar. Api menjilat ke langit, asap hitam membumbung tinggi, dan panas yang meradiasi bisa dirasakan dari ratusan meter jauhnya. Bukan hanya kebakaran yang besar dan tangki yang terancam berpotensi untuk meledak, tetapi secondary containment (dinding penahan cairan) yang seharusnya melindungi atau mencegah terjadinya tumpahan keluar justru menjadi “kolam bahan bakar yang terbakar.” Dalam kondisi seperti ini, waktu berjalan cepat: kalau foam tidak diaplikasikan dengan tepat dan dalam jumlah yang cukup, maka pemadaman kebakaran akan gagal. Di sinilah peran foam Kelas B menjadi penentu. Namun, pertanyaannya:

Apakah kita tahu berapa banyak foam yang dibutuhkan untuk benar-benar menutup dan memadamkan permukaan bahan bakar di containment itu?

Banyak sekali tim pemadam kebakaran yang sudah akrab dengan foam, tapi banyak yang tidak terbiasa dengan menghitung kebutuhan foam dengan tepat. Padahal, salah perhitungan bisa berarti supply foam habis sebelum api terkendali—dan situasi berakhir dengan bencana. Artikel ini membahas langkah-langkah perhitungan foam dengan cara sederhana namun akurat, mengacu pada prinsip yang diperkenalkan David F. Peterson, seorang veteran pemadam kebakaran dengan pengalaman 35 tahun di dunia Fire Service, dan mantan Fire Chief di kota Wisconsin,

Empat Faktor Penting dalam Perhitungan Foam:

1. Luas Area Permukaan Cairan
Luas Area mengacu pada luas permukaan tumpahan, biasanya dihitung dalam satuan square feet (ft²). Cara menghitungnya sederhana: panjang × lebar dari tumpahan. Jika bentuknya lingkaran, Anda bisa memperkirakan panjang dan lebarnya untuk mendapatkan angka perkiraan. Untuk perhitungan yang lebih tepat (meski tetap bukan ilmu pasti), luas lingkaran bisa dihitung dengan rumus (πr²) jika bentuk containment bundar.

2. Critical Application Rate (CAR)
Critical Application Rate (CAR) adalah laju aliran minimum foam yang sudah jadi yang harus diaplikasikan per square foot untuk memadamkan kebakaran cairan mudah menyala/terbakar. Nilai CAR ini ditetapkan melalui serangkaian pengujian ekstensif yang dilakukan oleh National Fire Protection Association (NFPA).
Untuk hydrocarbon fuels (bensin, solar, minyak tanah, dll) CAR ditetapkan sebesar 0,1 gpm/ft².
Untuk polar liquids (seperti alkohol, asam sulfat, aseton, dll), CAR ditetapkan sebesar 0,2 gpm/ft².

3. Eduction Rate (ER)

Persentase campuran konsentrat foam dengan air.
Hydrocarbon fuels: 3%
Polar liquids: 6%

4. Safety Factor (Durasi 15 menit minimum)
Sesuai NFPA 11 (2021), aplikasi foam harus dapat dipertahankan minimal 15 menit untuk memastikan bahwa api benar-benar terkendali dan tidak menyala kembali.
 
Rumus Perhitungan:

Gunakan rumus dasar berikut:
Luas Area × CAR × ER × 15 = Kebutuhan Konsentrat Foam (gallon)

Contoh Kasus: Tangki Bahan Bakar dengan Secondary Containment

Skenario: Sebuah tangki penyimpanan solar mengalami kebakaran, Tangki dikelilingi bundwall (secondary containment) berukuran 100 ft × 100 ft, Permukaan bahan bakar dalam containment ikut terbakar. Hitung kebutuhan foam: Luas Area: 100 × 100 = 10.000 ft², CAR untuk hydrocarbon: 0.1, ER: 0.03, Durasi: 15 menit Perhitungan: 10.000 × 0.1 × 0.03 × 15 = 450 gallon konsentrat foam

Rumus Cepat (Estimasi yang bisa dipakai di lapangan ketika sudah terjadi kebakaran)

Untuk mempermudah pengambilan keputusan di situasi kebakaran yang sudah terjadi dan/atau pada skenario dimana perhitungan jumlah kebutuhan foam belum ditetapkan dalam sebuah Standard Operating Procedures (SOP) untuk fasilitas tangki penyimpanan bahan bakar tertentu, maka rumus sederhana di bawah ini bisa digunakan:

  • Hydrocarbon fuels:
     Luas Area ÷ 20 = kebutuhan gallon foam
     Contoh: 10.000 ÷ 20 = 500 gallon foam

  • Polar liquids:
     Luas Area ÷ 5 = kebutuhan gallon foam
     Contoh: 10.000 ÷ 5 = 2.000 gallon foam


Hasil perhitungan di atas cukup mendekati angka detail dan dapat dijadikan acuan cepat bagi On-Scene Incident Commander dalam mengambil keputusan di lapangan. Baik pada skenario tumpahan bahan bakar maupun kebakaran yang sudah terjadi akibat tumpahan tersebut, perhitungan ini membantu menentukan berapa banyak konsentrat foam yang perlu disiapkan untuk pemadaman. Tujuannya adalah untuk memastikan lapisan foam mampu menutupi area permukaan dan memutus suplai oksigen, sekaligus menekan potensi risiko bahan bakar agar tidak mencapai konsentrasi Lower Explosive Limit (LEL) yang dapat memicu terjadinya kebakaran.

Artikel ini ditulis oleh Andris Mahulette (andrismahulette@gmail.com), Fire Service Veteran and Lifelong Learner, dengan semangat untuk terus berbagi ilmu dan pengalamannya untuk Indonesia. Perjalanan pendidikannya membawanya hingga ke Kirkwood Community College, di Amerika Serikat, dimana ia mempelajari Emergency Management – Fire Science—yang membentuk dedikasi dan wawasan yang terus ia bagikan hingga hari ini