Archive
Safety Wisdom #3
Sahabat safety, kita memiliki inspeksi/observasi sebagai salah satu cara untuk memastikan kepatuhan/kesesuaian dengan sebuah standar, pertanyaannya seberapa efektif inspeksi tersebut dan bagaimana cara mengukurnya ?
Efektivitas inspeksi/observasi merupakan fungsi dari ketersediaan orang/peralatan x kompetensi orang x kualitas item/cek list inspeksi x tindak lanjut jika terjadi ketidaksesuaian/ketidakpatuhan
Ketersediaan orang/peralatan bisa didapat dari penjadwalan dan pengadaan, kompetensi orang bisa didapat dari pelatihan, kualitas item/cek list inspeksi bisa didapat dari uji validitas terhadap standar, tindak lanjut ketidaksesuaian/ketidakpatuhan bisa didapat dari pengawasan.
Safety Wisdom #2
Sahabat safety, kita sering mendengar risiko dinilai sebagai kombinasi antara konsekuensi dan kemungkinan terjadi (likelihood), akan tetapi pertanyaannya adalah seberapa valid perhitungannya ?
Validitas berkaitan dengan derajat ketepatan perangkat untuk mengukur konsep, dua konsep di matrix risiko adalah konsekuensi dan likelihood. Matrix risiko memiliki validitas prediktif yang membuat hasilnya dinamis dan validitas eksternal dimana sebuah nilai risiko akan tergantung konteks dan sumberdaya (man,method,machine,money,material) dalam pekerjaan tersebut.
Itulah sebabnya nilai risiko akan selalu dinamis, diiterasi dengan data insiden yang terjadi di lapangan, dipantau, dievaluasi, dan ditindaklanjuti berdasarkan hasil evaluasi.
Safety Wisdom #1
Sahabat safety, hari ini kita akan membahas 3 hal mendasar dalam manajemen risiko, yaitu bahaya, risiko, dan hirarki kontrol.
Bahaya itu diidentifikasi, bagaimana cara mengidentifikasinya tidak lepas dari definsi bahaya itu sendiri yaitu segala hal yang berpotensi menimbulkan kerugian material/non-material, cedera/sakit pada manusia, dan kerusakan peralatan. Sebagian mengklasifikannya dalam bahaya bahaya fisik, kimia, biologi, keselamatan, sampai dengan psikologis.
Risiko adalah paparan manusia/peralatan terhadap bahaya yang dinilai dalam bentuk angka/warna kombinasi konsekuensi dan likelihood yang disebut matrix risiko.
Hirarki kontrol adalah upaya yang dilakukan untuk menghilangkan/mengurangi bahaya lewat engineering/rekayasa, atau menurunkan nilai risikonya lewat administrasi, praktek kerja, dan APD
Competent Person

Istilah Competent Person atau Orang Yang Berkompeten seringkali muncul dalam peraturan perundang-undangan dan prosedur internal perusahaan, beberapa diantaranya mendefinisikannnya sebagai orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan/keterampilan, pengalaman atau sertifikasi kompetensi yang ditetapkan oleh internal perusahaan atau pemerintah berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Khusus (SKKK), Standar Internasional (SI), atau Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Dalam ilmu kompetensi, orang yang berkompeten digambarkan dalam IRISAN antara Knowledge, Skills, dan Attitude (lihat gambar diatas), dengan kata lain orang yang mengerjakan suatu task menggunakan gabungan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya maka dikatakan sebagai orang yang berkompeten. Akan tetapi, bagaimana mengukur task yang dilakukan oleh orang tersebut dalam kondisi lingkungan yang sama atau berbeda disebut kompeten ?
Jawaban dari pertanyaan tersebut ada dalam DIMENSI KOMPETENSI.
Dimensi Kompetensi merupakan ukuran baku ketika kita hendak menyatakan bahwa orang tersebut kompeten/belum kompeten. Terdapat Lima Dimensi Kompetensi, Dimensi 1 s.d. 4 (Task Skills, Task Management Skills, Contigency Management Skills, Job Role Environmental Skills) merupakan dimensi kompetensi dalam lingkungan yang tetap, sedangkan Dimensi 5 (Transfer Skills) merupakan dimensi kompetensi dalam lingkungan yang berbeda.
Untuk memahami lima dimensi kompetensi tersebut, kita ambil contoh sederhana seorang pengemudi mobil. Seorang pengemudi mobil dikatakan kompeten apabila 1) dia dapat menghidupkan,menjalankan, dan mematikan mobil sesuai dengan prosedur (Task Skils), 2) dia dapat menjalakan mobil untuk mengantar barang/penumpang dari titik A ke tidak B (Task Management Skills), 3) dia dapat mengambil tindakan pencegahan/perbaikan apabila ada kerusakan mobil (Contigency Management Skils), 4) dia dapat mengikuti aturan perjalanan/rambu lalu lintas ketika mengemudikan mobil (Job Role Environmental Skills), dan 5) dia dapat mengemudikan mobil dengan merk apapun dan transmisi manual/matik (Transfer Skills). Ketika pengemudi mobil tersebut telah memenuhi kelima unsur dimensi kompetensi tersebut maka dia dikatakan sebagai pengemudi yang Kompeten!
Semoga bermanfaat (ditulis dari Tembagapura – FN)
Evaluasi Pelatihan dengan pendekatan Metode Penelitian

Pertanyaan yang sering ditanyakan kepada Penyelenggara Pelatihan adalah bagaimana mereka melakukan evaluasi pelatihan? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan beberapa model evaluasi pelatihan dari Kirpatrick (reaction, learning, behavior,result), CIPP (context, input, proses, product), Wheel model, Provus model, Stake model, Brinkerhoff model, dan model yang lain. Setiap model memiliki keunikan dan pendekatan yang berbeda sehingga keputusan untuk menggunakannya disesuaikan dengan karakteristik dan tujuan evaluasi pelatihan yang hendak dicapai oleh pihak Penyelenggara Pelatihan atau pihak lain yang berkepentingan/berwenang.
Akan tetapi, ijinkan saya mengusulkan pendekatan Metode Penelitian bertahap untuk melakukan evaluasi pelatihan yang dapat dapat dilakukan oleh praktisi/akademisi secara sistematis, obyektif, dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Modul Pelatihan adalah tindakan intervensi yang dilakukan untuk menambah pengetahuan, keterampilan, merubah sikap atau perilaku seseorang. Berikut adalah urutan dari pendekatan tersebut:
- fase 1: penelitian analitik observasional
- fase 2: penelitian eksperimental
- fase 3 penelitian eksperimintal
Fase 1 (penelitian analitik observasional) dilakukan dengan melakukan “expert judgment” terhadap modul pelatihan yang telah dibuat. Hal ini disebut sebagai validasi isi dari modul pelatihan tersebut. Di dalamnya terdapat angket yang disebarkan kepada sekelompok orang (praktisi/akademisi) terkait dengan topik modul pelatihan tersebut. Angket tersebut berisi topik pelatihan, tujuan pelatihan, uraian isi, dan penilaian berskala 1 s.d. 5 yang akan dihitung nilai koefisiennya. Koefisien tersebut memiliki skala 0 s.d. 1, nilai yang mendekati 1 (contoh 0.8) dapat dikatakan memiliki validasi isi yang baik.
Fase 2 (penelitian eksperimental) merupakan kelanjutan dari fase 1 yang memiliki validasi isi yang baik dan disebut sebagai validitas fungsional. Fase ini akan melakukan observasi terhadap dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (diberikan intervensi pelatihan) dan kelompok kontrol (tidak diberikan intervensi pelatihan). Kedua kelompok tersebut diobservasi dengan skala waktu yang tepat apakah ada perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap/perilaku sesuai dengan tujuan pelatihan. Hasilnya dibandingkan satu dengan lainnya untuk membuat analisis dan menghasilkan kesimpulan yang sahih apakah ada perubahan pengetahuan,keterampilan, sikap/perilaku dari peserta pelatihan.
Fase 3 (penelitian eksperimental) merupakan kelanjutan dari fase 2 yang memiliki kesimpulan sahih bahwa ada perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap/perilaku dari peserta pelatihan. fase ini disebut sebagai efektivitas pelatihan. Fase ini akan meletakkan variabel perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap/perilaku sebagai variabel independen dan menempatkan dampak/efek dari pelatihan tersebut sebagai variabel dependen. Contoh dari dampak/efek tersebut adalah penurunan tingkat kecelakaan, peningkatan perilaku selamat, dan lain-lain. Seperti halnya fase 2, penelitian fase 3 ini masih menggunakan metode ekspermintal dengan dua kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kontrol.
Semoga bermanfaat (FN, ditulis dari Tembagapura Papua)