Archive

Archive for the ‘System’ Category

Rencana Perbaikan dan Tindak Lanjut – SMKP

November 9, 2025 Leave a comment

SMKP Sub Elemen V.7 adalah Rencana Perbaikan dan Tindak Lanjut dimana perusahaan diminta untuk menyusun, menerapkan, dan mendokumentasikan prosedur untuk menindaklanjuti ketidaksesuaian. Ketidaksesuaian tersebut meliputi penyimpangan terhadap standar kerja, praktik kerja, prosedur kerja, persyaratan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan, dan persyaratan SMKP yang dapat menyebabkan cedera/penyakit, kerusakan SPIP, dan/atau kerusakan lingkungan kerja. Prosedur tersebut paling sedikit terdiri atas,

  1. identifikasi dan perbaikan ketidaksesuaian
  2. analisis penyebab ketidaksesuaian (baca artikel model kausalitas)
  3. evaluasi kebutuhan tindakan untuk mencegah ketidaksesuaian
  4. catatan dan komunikasi hasil tindakan perbaikan dan pencegahan (baca artikel matriks komunikasi)
  5. evaluasi efektivitas tindakan perbaikan dan pencegahan (baca artikel mengukur efektivitas tindakan koreksi)

Nilai maksimal (4) akan didapatkan apabila perusahaan 1) telah memiliki prosedur untuk menindaklanjuti ketidaksesuaian, 2) pelaksanaan perencanaan perbaikan dan tindak lanjut telah dilaksanakan sesuai prosedur, 3) perbaikan dan tindak lanjut telah seluruhnya didokumentasikan dan dilaksanakan sesuai perencanaan.

    Semoga bermanfaaat – FN

    Opportunity For Improvement – SMKP Audit

    November 8, 2025 Leave a comment

    Opportunity For Improvement (OFI) seringkali muncul dalam hasil audit SMKP sebagai salah satu nilai tambah yang diberikan oleh auditor ke auditi. OFI berangkat dari temuan kesesuaian (Conformity), sedangkan CAPA/PICA muncul dari temuan ketidaksesuaian(Non Conformity). Pertanyaan yang sering muncul dari auditor adalah referensi apa yang dapat digunakan untuk membuat OFI. Berikut adalah dua hal yang bisa digunakan sebagai referensi,

    ISO 45001:2018 klausul 10.3 peningkatan berkelanjutan memberikan beberapa contoh OFI seperti teknologi baru; praktik kerja baik (good practice); saran dan rekomendasi pihak terkait; pengetahuan dan pemahaman baru; bahan yang baru atau lebih baik; perubahan kapasitas/kompetensi pekerja; mencapai perbaikan kinerja dengan sumber daya yang lebih sedikit/efisiensi.

    Kepdirjen 10.K/2023 memiliki 5 tingkatan penilaian dari tingkat dasar, reaktif, terencana, proaktif, dan resilient. Kita bisa mengkategorikan menjadi 2 yaitu compliance (terencana) dan beyond compliance (proaktif, resilient) Hal-hal yang disebutkan di beyond compliance dapat dijadikan sebagai OFI. Sebagai contoh di item 3.2.4 Teknik Analisis Kasus KP, di tingkatan compliance perusahaan telah melakukan investigasi kasus KP menggunakan pendekatan analisis simple-linear model dan fokus untuk mendeteksi kausalitas penyebab kecelakaan, sedangkan di tingkatan beyond compliance perusahaan telah menggunakan pendekatan analisis complex-linear model atau complex-non linear model untuk mencari kegagalan pada perlindungan berlapis atau mengapa kontrol yang ada gagal untuk mendeteksi/mencegah kecelakaan.

    Korelasi sub elemen SMKP dengan item dalam Kepdirjen 185/2019 dapat ditemukan dalam tulisan saya berikut (Korelasi SMKP dan Penilaian Kinerja KP)

    Semoga bermanfaat – FN

    Categories: Audit

    Penyebab Insiden Pertambangan

    October 26, 2025 Leave a comment

    Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya terkait Bukti Insiden Pertambangan. Setelah mengumpulkan bukti, langkah berikutnya adalah membuat kronologis kejadian, melakukan analisis kejadian untuk menentukan penyebab langsung dan penyebab dasar, dan membuat kesimpulan (lihat tulisan SNI 7081:2023 Penyelidikan Insiden Pertambangan). Berikut adalah kategori penyebab langsung dan penyebab dasar yang dapat digunakan sebagai acuan,

    Penyebab LangsungPenyebab Dasar
    Tindakan Tidak Aman
    Bekerja dengan kondisi mengantuk (Fatigue)
    Bekerja dengan posisi tidak benar
    Bekerja dibawah pengaruh alkohol
    Bercanda sambil bekerja
    Berjalan meniti pipa tanpa alat keselamatan yang sesuai
    Melakukan pekerjaan pada area kritis
    Melayani mesin yang sedang bergerak
    Membuat peralatan keselamatan tidak berfungsi
    Memposisikan sebagian tubuh ke titik jepit
    Mengabaikan perintah/peraturan/larangan/dll
    Mengendarai unit beriringan
    Menggunakan alat dengan tidak tepat
    Menggunakan alat yang rusak
    Menggunakan alat yang tidak lengkap
    Mengoperasikan alat melebihi batas kecepatan
    Mengoperasikan alat tanpa izin
    Merokok di tempat terlarang
    Terlalu menforsir tenaga
    Tidak memakai APD
    Tidak memasang alat pelindung
    Tidak mengikuti prosedur kerja
    Lain-Lain
    Faktor Personal
    Kurang kemampuan secara fisik
    Kurang kemampuan secara mental
    Kurang keterampilan
    Kurang pengetahuan
    Motivasi keliru
    Percaya diri yang berlebih
    Stres fisik
    Stres mental
    Lain – Lain
    Kondisi Tidak Aman
    Alat/Sistem Pengaman yang tidak ada/tidak lengkap
    Arus dan angin kencang
    Bagian benda kerja atau material yang tajam
    Batu Menggantung tidak digugurkan
    Berdebu dan berasap
    Housekeeping tidak baik
    Hujan/Cuaca
    Jalan tidak memadai (blind spot, grade, median, dll)
    Kebakaran dan peledakan
    Kebisingan tinggi
    Komunikasi yang terganggu
    Kondisi geologi
    Kondisi jalan licin
    Kondisi overheat
    Lereng Kritis
    Penerangan Kurang
    Penyangga tidak memadai
    Peringatan atau rambu tidak lengkap
    Perkakas atau peralatan rusak atau tidak sesuai
    Permukaan tidak rata atau berlubang
    Pohon yang mengganggu/rebah
    Ruang kerja yang terbatas
    Sistem atau alat pengaman atau pelindung mesin tidak lengkap
    Sistem drainase tidak baik
    Sump melebar/meluap
    Tali keselamatan tidak sesuai
    Temperatur rendah atau tinggi
    Tidak adanya akses perlintasan orang yang aman
    Tumpukan barang yang tidak aman
    Unit parkir di area berbahaya
    Ventilasi tidak memadai
    Lain – Lain
    Faktor Pekerjaan
    Bahaya pekerjaan belum teridentifikasi dengan baik
    Diklat atau sosialisasi kurang
    Komunikasi dan koordinasi kurang
    Kualitas kepemimpinan dan pengawasan kurang kurang
    Kuantitas kepemimpinan dan pengawasan kurang kurang
    Material, perkakas dan peralatan kurang
    Pemeliharaan kurang
    Pengadaan kurang
    Perencanaan teknis atau kerja kurang
    Rekayasa kurang
    Sistem pembelian atau pemilihan barang kurang
    Standar kerja kurang

    Semoga bermanfaat – FN

    Bukti Insiden Pertambangan

    September 27, 2025 1 comment

    Insiden Pertambangan berdasarkan SNI 7081:2013 adalah kejadian yang timbul dari, atau disebabkan oleh, pekerjaan yang dapat atau mungkin mengakibatkan cedera, kerusakan harta benda, dan atau terhalangnya operasional di pertambangan, mencakup hampir celaka, kecelakaan tambang, dan kejadian berbahaya. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan dan menganalisis Bukti Insiden Pertambangan, yaitu rekaman, pernyataan mengenai fakta atau informasi lain yang terkait dengan insiden pertambangan dan dapat diverifikasi.

    Berikut adalah pembagian kategori dan pemberikan koding untuk Bukti Insiden Pertambangan berdasarkan Lampiran Surat KaIT Nomor B-3582/MB.07/DBT.KP/2023 tanggal 16 Juni 2023,

    A.Posisi Korban, Alat, Saksi, Kondisi Material, dan Lingkungan Kerja LokasiB.Data dan dokumen berkaitan dengan orang yang terlibatC.Data dan dokumen berkaitan dengan kondisi dan material SPIPD.Dokumen dan rekaman pendukung lainnya
    A1. Sketsa yang menggambarkan lokasi kecelakaan/kejadian berbahaya, posisi korban, alat, jarak, dan dimensi
    A2. Foto situasi dari beberapa sisi pasca kecelakaan/kejadian berbahaya yang menunjukkan fakta lapangan
    A3. Material (kondisi,jenis, dan karakteristik) yang berkaitan dengan kecelakaan/kejadian berbahaya
    A4. Kondisi lingkungan kerja (debu,kebisingan,getaran,pencahayaan,kuantitas dan kualitas udara, iklim kerja, radiasi, faktor kimia, faktor biologi, dan kebersihan lingkungan) di lokasi
    …
    B1. Saksi langsung
    B2. Saksi tidak langsung
    B3. Data pribadi korban kecelakaan dan saksi kecelakaan/kejadian berbahaya
    B4. Surat keterangan dokter yang menjelaskan kondisi medis korban kecelakaan dan saksi kecelakaan/kejadian berbahaya berdasarkan hasil pemeriksaan terdiri dari rekaman medis hasil pemeriksaan berkala, rekaman media hasil pemeriksaan pasca kecelakaan
    B5. Struktur organisasi perusahaan yang menunjukkan posisi dan jabatan korban kecelakaan dan saksi kecelakaan/kejadian berbahaya
    B6. Status ikatan kerja dan deskripsi pekerjaan korban kecelakaan dan saksi kecelakaan/kejadian berbahaya
    B7. Data TNA, rencana pelatihan dan rekaman pelatihan/kompetensi korban kecelakaan dan saksi kecelakaan/kejadian berbahaya
    B8. Surat izin mengoperasikan unit atau peralatan
    …
    C1. Kondisi teknis (statis dan mekanis)
    C2. Kondisi fisik (kerusakan , suhu, dan bau)
    C3. Perangkat lunak pendukung peralatan
    C4. Data teknis berkaitan dengan spesifikasi dan desain SPIP yang digunakan
    C5. Dokumen dan rekaman yang berkaitan dengan pemeliharaan SPIP
    C6. Sertifikasi kelayakan SPIP
    C7. Sistem pengamanan (proteksi keselamatan) dari setiap alur proses
    …
    D1. Buku Tambang
    D2. Buku daftar kecelakaan
    D3. Legalitas perusahaan pemegang IUP dan IUJP
    D4. Pengesahan KTT/PTL/PJO
    D5. Rencana dan realisasi program KP berkaitan dengan kecelakaan/kejadian berbahaya
    D6. Hasil inspeksi internal beserta tindak lanjutnya yang berkaitan dengan kecelakaan/kejadian berbahaya
    D7. Hasil audit internal dan/atau eksternal SMKP
    D8. Alur proses dari suatu sistem operasional yang berhubungan dengan kecelakaan/kejadian berbahaya
    D9. Dokumen manajemen risiko yang berkaitan dengan kecelakaan/kejadian berbahaya
    D10. Peraturan perusahaan yang terkait dengan kejadian kecelakaan/kejadian berbahaya
    D11. Prosedur kerja (SOP, instruksi kerja, dan JSA) yang berkaitan dengan kecelakana/kejadian berbahaya
    D12. Alur pemberian dan pelaporan pekerjaan yang terkait dengan kecelakaan/kejadian berbahaya
    D13. Dokumen dan rekaman digital (video, cctv, drone, dll)
    ….

    Semoga bermanfaat – FN

    Kewajiban Menerapkan SMKP

    September 20, 2025 1 comment

    Beberapa pertanyaan masuk ke inbox saya terkait dengan kewajiban hukum menerapkan SMKP (Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan) bagi perusahaan tambang dan jasa pertambangan/IUJP. Berikut adalah jawaban dari pertanyaan tersebut,

    1. Permen ESDM 26 Tahun 2018,
      • pasal 18 ayat 1: Pemegang IUP Eksplorasi, IUPK Eksplorasi, IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, dan IUP Operasi Produksi Khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian wajib menerapkan SMKP
      • pasal 18 ayat 3: Pemegang IUP Eksplorasi, IUPK Eksplorasi, IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, dan IUP Operasi Produksi Khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian wajib melakukan audit internal penerapan SMKP paling sedikit 1 kali dalam 1 tahun
      • pasal 18 ayat 4: Dalam hal terjadi kecelakaan, kejadian berbahaya, KAPTK, PAK, bencana, dan/atau untuk kepentingan penilaian kinerja KP, KAIT dapat meminta kepada pemegang IUP Eksplorasi, IUPK Eksplorasi, IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, dan IUP Operasi Produksi Khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian untuk melakukan audit eksternal penerapan SMKP
      • pasal 18 ayat 5: Audit eksternal penerapan SMKP* sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan oleh lembaga audit independen yang terakreditasi dan telah ditetapkan oleh Direktur Jenderal
    2. Permen ESDM 7 Tahun 2020,
      • pasal 83 ayat 6: Pemegang IUJP wajib menyusun dan menyampaikan laporan berkala sebagaimana dimaksud dalam pasal 82 ayat (1) huruf a kepada Menteri melalui Direktur Jenderal atau gubernur sesuai dengan kewenangannya melalui pemegang IUP atau IUPK yang meliputi…(b) laporan audit internal penerapan SMKP
    3. Permen ESDM 10 Tahun 2023
      • pasal 15 ayat 1: Pemegang IUP tahap kegiatan Eksplorasi atau pemegang IUPK tahap kegiatan Eksplorasi wajib menyusun dan menyampaikan Laporan Berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a kepada Menteri melalui Direktur Jenderal atau Gubernur sesuai dengan kewenangannya yang meliputi…(f) laporan audit internal penerapan SMKP
      • pasl 15 ayat 2: Pemegang IUP tahap kegiatan Operasi Produksi, pemegang IUPK tahap kegiatan Operasi Produksi, atau pemegang IUPK sebagai kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian wajib menyusun dan menyampaikan Laporan Berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a kepada Menteri melalui Direktur Jenderal atau Gubernur sesuai dengan kewenangannya yang meliputi: …(h) laporan audit internal penerapan SMKP
      • Pasal 15 ayat 8: Pemegang IUJP wajib menyusun dan menyampaikan Laporan Berkala sebagimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a kepada Menteri melalui Direktur Jenderal atau Gubernur sesuai dengan kewenangannya yang berupa laporan pelaksanaan kegiatan usaha jasa pertambangan
      • Pasal 16: Pemegang IUP tahap kegiatan Eksplorasi, pemegang IUPK tahap kegiatan Eksplorasi, pemegang IUP tahap kegiatan Operasi Produksi, pemegang IUPK tahap kegiatan Operasi Produksi, atau pemegang IUPK sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian wajib menyusun dan menyampaikan Laporan Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf c kepada Menteri melalui Direktur Jenderal atau Gubernur sesuai kewenangannya yang meliputi: …(g) laporan audit eksternal penerapan SMKP

    *) audit eksternal SMKP dapat dilakukan oleh surveyor indonesia atau sucofindo

    Semoga bermanfaat – FN